Perkataan para Imam untuk mengikuti Sunnah dan meninggalkan perkataan mereka jika menyelisihiSunnah

Posted on 24 April 2011 oleh


Adalah suatu yg bermanfaat jika disini kami bawakan sebagian pernyataan Imam yg kami ketahui,semoga dlm perkataan mereka bisa menjadi nasihat bagi orang2 yg taqlid kepada mereka.

1. Imam Abu Hanifah rahimahullah

“Apabila suatu hadits itu shahih,maka itulah madzhabku”

Diriwatkan oleh Ibnu ‘Abidin dlm al-Haasyiyah dan dlm tulisan beliau Rasmul Mufti dari Majmuu’ah ar-Rasaa-il Ibni ‘Abidin juga diriwayatkan oleh Syaikh Shalih al-Fulani dlm kitab Liqaazhul Hiimam dan diriwatkan juga oleh yg lainnya.

“Tidak halal bagi seorangpun mengambil pendapat kami selama ia tidak mengetahui darimana kami mengambil pendapat tersebut.”

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dlm Al-Intiqoo fii Fadhaa-ilits Tsalaatsah al-A immah Al-Fuqahaa, Ibnul Qoyyim dlm I’laamul Muwaqqi’iin.

“Haram bagi seseorang yg tidak mengetahui dalilku, utk berfatwa dgn pendapatku”

Dalam riwayat lain ditambahkan

“Kami ini hanya manusia belaka,kami mengemukakan satui pendapat pd hari ini,dan kami rujuk kembali esok hari.”
Dalam riwayat lain di sebutkan
“Celakalah engkau Yaqub(yaitu Abu Yusuf)! Jangan engkau tulis setiap yg engkau dengar dari ku. Sungguh aku ini terkadang berpendapat dgn suatu pendapat pada hari ini dan esok aku tinggalkan dan terkadang esok aku berpendapat dgn suatu pendapat dan aku tinggalkan esok lusa”
Hal ini terjadi karena Imam Abu Hanifah banyak mendasari pendapatnya dgn qiyas,lalu tampak baginya qiyas yg lebih kuat atau sampai kepadanya Hadits dan beliaui mengambil Hadits tersebut.

“Apabila saya mengutarakan suatu pendapat yg bertentangan dgn Al-Quran dan Hadits Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam,maka tinggalkanlah”
Diriwayatkan oleh al-Filani dlm al-liqaazh.

2. Imam Malik bin Anas rahimahullaah
Beliau berkata:
“Saya ini hanya manusia biasa bisa salah dan bisa benar,maka telitilah pendapatku. Setiap pendapatku yg sesuai dgn Al-Quran dan As-sunnah,maka ambilah pendapat tersebut dan setiap pendapatku yg bertentangan dg Al-Quran dan As-sunnah maka tinggalkan pendapat tersebut”
Diriwatkan oleh Ibnu Abdil Barr dlm kitab al-jaami’,Ibnu Hazm dlm Ushulul Ahkam dan al-Filani dlm al-liqaazh.

“Tidak Ãϑά seorangpun sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali pendapatnya bisa diambil atau bisa juga ditolak,kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”
Ibnu Abdil Hadi menshahihkan periwayatan ini di Irsyaadus Saalik, Ibnu Abdil Barr dlm al-Jami’ ,Ibnu Hazm dlm Ushuulul Ahkam.

3. Imam as-Syafi’i rahimahullaah
Beliau berkata:
“Tidak Ãϑά seorangpun,kecuali ia memiliki kemungkinan utk lupa terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tersembunyi darinya.Setiap perkataanku atau setiap ushul(asas) yg aku letakan,kemudian ternyata riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam menyelisihi perkataanku maka pendapat yg harus di ikuti itu adalah apa yg di sabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan akupun berpendapat dengannya.”
Diriwatkan oleh al-Hakim dgn sanad yg bersambung sampai kepada asy-Syafi’i, dlm Taariikh Dimasyqa karya Ibnu ‘Asakir

“Kaum muslimin telah ijma bahwa barangsiapa yg mengetahui secara jelas suatu Sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,maka tidak halal baginya meninggalkan Sunnah tersebut karena perkataan atau pendapat seseorang”
Diriwayatkan oleh Ibnul Qoyyim dan al-Filani

“Jika kalian dapati didalam kitabku hal yg bertentangan dgn Sunnah,maka berpendapatlah sesuai dgn Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tinggalkan yg aku katakan” dlm riwayat lain”Maka ikutilah Sunnah tersebut dan jangan kalian hiraukan pendapat seorangpun”
Al-Harawi dlm Dzammul Kalaam,al-Khathib dlm al-Ihtijaaj bisy-Syafi’i,an-Nawawi dlm al-Majmuu’.sedangkan riwayat lain diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dlm al-Hilyah,Ibnu Hibban dalam al-Ihsan dgn sanad yg shahih dari Imam asy-Syafi’i.

“Jika suatu hadits telah shahih,maka itulah madzhabku”
Imam an-Nawawi dlm referensi tersebut diatas dan asy-Sya’rani lalu beliau menyandarkan kpd al-Hakim dan al-Baihaqi dan al-Filani, berkata asy-Sya’rani:”Ibnu Hazm berkata”Maksudnya shahih menurut beliau atau menurut Imam-Imam yg lainnya”
Pembahasan yg sempurna tentang hal ini dpt anda jumpai dlm I’Iaamul Muwaqqi’in dan kitab al-Filani yg berjudul Liqoozhul Himam Ulil Abshor lil Iqtida’ bi Sayyidil Muhaajirin wal Anshor. Ini adalah kitab yg tidak Ãϑά tandingannya,setiap orang yg mencintai kebenaran wajib mempelajari kitab ini dg mencurahkan pemahaman dan perhatian.

“Engkau (Imam Ahmad bin Hanbal) lebih mengetahui tentang hadits dan para perawi dibanding aku. Jika didapati suatu hadits yg shahih maka beritahu aku,darimanapun hadits itu berasal baik dari Kufah,Bashrah,ataupun Syam;hingga aku dpt berpendapat dgn nya,apabila hadits itu shahih”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dlm Aadaab as-Syafi’i,Abu Nu’aim dlm al-Hilyah,al-Khatib dlm al-ihtijaaj bi Syafi’i dari beliaulah Ibnu Asakir meriwayatkan perkataan ini. Ibnu Abdil Barr dlm al-Intiqaa,Ibnul Jauzi dlm Manaqib al-Imam Ahmad dan al-Harawi dlm tiga sanad,riwayat ini shahih dari beliau(Imam Ahmad).

“Setiap permasalahan yg berkenaan dgn adanya hadits shahih dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa-sallam menurut para ahli periwayatan(hadits),dan bertentangan dgn yg aku katakan,maka aku menarik kembali pendapatku,baik ketika aku hidup maupun setelah aku mati”
Diriwatkan Abu Nu’aim dlm al-Hilyah,al-Harawi,Ibnul Qoyyim dlm I’Iaamul Muwaqqi’iin dan al-Filani

“Apabila kalian melihatku mengucapkan suatu pendapat,padahal telah shahih hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yg menyelisihi pendapatku,maka ketahuilah bahwasannya akalku telah hilang!”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dlm Aadaab asy-Syafi’i,Abul Qasim as-Samaraqandi dlm al-Amaalii sebagai mana ditulis di al-Muntaqa ringkasan kitab tersebut karya Abu Hafs al-Muaddib

“Setiap apa yg aku katakan,sedangkan riwayat yg shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyelisihi pendapatku,maka hadits itu lebih utama,janganlah kalian bertaqlid kepadaku”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim,Abu Nu’aim,Ibnu Asakir dgn sanad yg shahih.

“Setiap hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka itu adalah pendapatku,walaupun kalian tidak pernah mendengarnya dariku”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim

4. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah

Beliau adalah Imam yg paling banyak mengumpulkan hadits dan paling berpegang teguh pada hadits sampai2 dikatakan”Beliau membenci menulis buku yang berisi masalah furu’ dan ra’yu”
Beliau berkata:
“Jangan kalian bertaqlid kepadaku dan jangan pula kalian bertaklid kepada Malik,asy-Syafi’i,al-Auza’i,dan ats-Tsauri tapi ambilah dari mana mereka mengambil”
Diriwayatkan oleh al-Filani dan Ibnul Qayyim dlm l’laamul Muwaqqi’iin

Dalam riwayat lain disebutkan:
“Janganlah kalian taqlid dlm agama kalian kepada salah seorang diantara para Imam. Apapun yg datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya maka ambillah,kemudian pendapat para Tabi’in. Dan setelah mereka barulah boleh dipilih”. Suatu saat beliau juga berkata” Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa yg datang dari Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Shahabat kemudian setelah pendapat para Tabi’in dia boleh memilih”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dlm Masaa-ilul Imam Ahmad

“Pendapat al-Auza’i,pendapat Malik,pendapat Abu Hanifah,semua itu hanya pendapat. Dan bagi ku semuanya sama, yang menjadi hujjah hanyalah atsar”
Diriwayatkan Ibnu Abdil Barr dlm al-Jami’

“Barangsiapa yg menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,maka dia berada pada jurang kehancuran”
Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi

Demikianlah perkataan2 empat Imam madzhab semoga Allah-meridhoi mereka dlm masalah berpegang teguh pada hadits dan larangan taqlid kepada mereka tanpa ilmu. Oleh karena itu barangsiapa yg berpegang teguh pada setiap keterangan yg shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,walaupun menyelisihi pendapat para Imam,maka ia tdk dikatakan meninggalkan madzhabnya dan tidak juga keluar dari jalan mereka bahkan ia telah mengikuti para Imam dan berpegang teguh dgn buhul tali yg amat kuat yang tidak akan putus.

Oleh:Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Diambil dari buku Tegar di atas Sunnah.

Ditandai: , , , ,
Posted in: Artikel, Fatwa