Antara Sunnah dan Bid’ah

Posted on 22 Agustus 2011 oleh


Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sunnah dengan makna apa-apa yang disyari’atkan oleh Rasul-Nya adalah lawan dari bid’ah, yakni apa-apa yang baru yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [1]

Bid’ah menurut bahasa adalah perkara baru yang diada-adakan.[2]

Imam asy-Syathibi rahimahullah berkata: “Lafazh bid’ah pada asalnya bermakna apa saja yang diada-adakan yang tidak ada contoh sebelumnya”.

Di antara kata bid’ah yang dinamakan demikian ialah kata bid’ah yang terdapat dalam firman Allah:

“Artinya : Allah yang menciptakan langit dan bumi…”. [Al-Baqarah : 117]

Maksudnya kata ‘badiiu’ di sini bahwa Allah mengadakan atau menciptakannya dengan rupa (bentuk) yang tidak ada contoh sebelumnya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Artinya : Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Aku bukan seorang Rasul yang baru (bid’ah)…”. [Al-Ahqaaf : 9]

Maksud “bid’ah” di sini ialah : “Bukanlah aku seorang Rasul pertama yang membawa risalah dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, bahkan telah banyak Rasul-Rasul yang telah mendahuluiku”.

Apabila dikatakan si fulan telah membuat satu bid’ah, maka artinya si fulan telah mengadakan suatu jalan (cara) yang belum pernah ada orang yang melakukan sebelumnya.[3]

Bid’ah menurut syari’at ialah apa-apa yang diadakan oleh manusia baik perkataan maupun perbuatan di dalam agama dan syi’ar-syi’arnya yang tidak ada keterangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya yang maksud mengerjakannya untuk ta’abbud (peribadahan). [4]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :.

“Artinya : Barangsiapa membuat cara baru dalam urusan (agama) kami dengan sesuatu yang tidak ada contohnya, maka (amalan) itu tertolak”.[5]

Dalam hadits lain dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Barangsiapa yang beramal dengan satu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak”.[6]

Ketika Ibnu Taimiyyah mendefinisikan bid’ah, beliau berkata:

“Bid’ah itu adalah apa-apa yang menyalahi Al-Kitab, As-Sunnah dan Ijma’ Salafush Shalih, baik masalah-masalah aqidah maupun masalah-masalah ibadah, seperti perkataan-perkataan orang-orang Khawarij, Rafidhah, Qadariyyah, dan Jahmiyyah serta orang-orang yang beribadah sambil menari-nari dan bernyanyi di masjid-masjid”. [7]

Jadi, terkadang As-Sunnah dimaksudkan kepada lawan dari bid’ah. Bila dikatakan si fulan mengikuti Sunnah artinya si fulan beramal menurut apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya. Dan bila dikatakan si fulan berbuat bid’ah artinya si fulan beramal menyalahi apa-apa yang dilaksanakan Rasulullah dan para Shahabatnya Radhiyallahu ‘anhum.

As-Sunnah yang dimaksud dalam pembahasan itu adalah arti Sunnah menurut pengertian ulama ushul, karena pengertian inilah yang digunakan dalam pembahasan dalil-dalil pokok dan kedudukannya dalam pembinaan dan pembuatan hukum syara’. Kendatipun demikian dalam analisis sejarah akan diketengahkan pula pengertian secara umum sebagaimana yang digunakan oleh ahli hadits.

[Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syariat Islam, Bab I : As-Sunnah Dan Definisinya, Penulis Yazid Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO.Box 264 Bogor 16001, Jawa Barat Indonesia, Cetakan Kedua Jumadil Akhir 1426H/Juli 2005]
_________
Foote Note.
[1]. Mafhuum Ahlis Sunnah (hal. 32, 35).
[2]. Lihat kitab Lisaanul ‘Arab (I/342), Mukhtasharush Shihhah (hal. 43-44).
[3]. Al I’tisham (I/49), tahqiq Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly.
[4]. Ibid, (I/50).
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718), dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha
[6]. HR. Muslim (no. 1718 (17)) dan selainnya.
[7]. Majmu Fataawaa (XVIII/346 dan XXXV/414

Iklan
Ditandai: ,
Posted in: Artikel