Membahagiakan Orang Lain

Posted on 1 November 2011 oleh


Oleh: Redaksi Majalah Fatawa

Pertemuan dengan Wajah Berseri-seri

Sesungguhnya pertemuan antar sesama Muslim adalah sebaik-baik pertemuan di muka bumi. Didalamnya terkandung rasa cinta, keikhlasan, kejujuran dan kegembiraan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan kepada kita akan pentingnya pertemuan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“Janganlah sedikitpun kamu menyepelekan kebaikan meski (hanya) dalam bentuk menjumpai saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (Riwayat Muslim no. 2626)

Syaikh Ahmad ad-Daumi rahimahullah mengatakan; “Sesungguhnya Muslim yang sebenarnya itu jika berjumpa dengan saudaranya wajahnya akan berseri-seri, senyumannya tulus, pandangannya berbinar, kata-katanya bisa membuat keceriaan, ia merasa bahwa cintanya amatlah dalam serta persaudaraannya sangatlah kuat. Seakan-akan mereka adalah ranting-ranting cabang dari pohon yang satu. Mereka tak ubahnya satu jiwa dalam banyak tubuh. Inilah hakekat kehidupan dan rasa persaudaraan yang benar.”

Urwah bin Zubair rahimahullah berkata; “Hendaklah kamu memiliki wajah yang selalu berseri-seri dan tutur kata yang halus, maka kau akan dicintai manusia serta kamu termasuk orang yang telah menjadi penderma bagi mereka.”

al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata; “Pandangan Muslim pada saudaranya dengan wajah yang menggambarkan perasaan cinta dan kasih sayang adalah ibadah.”

Dan bukankah wajah ceria menandakan apa yang ada di dalam hati? Bila hati telah menyatu maka kebaikan akan dengan mudahnya mengalir dari kedua belah pihak. Masing-masingpun menjadi bahagia.

Saling Memberi Nasehat

Memberi nasehat adalah bukti perhatian dan kecintaan seseorang kepada orang yang ia nasehati. Dalam komunitas masyarakat Muslim, nasehat adalah kebutuhan mutlak, baik nasehat itu bersifat duniawi maupun ukhrawi. Bahkan dalam hadits riwayat Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu disebutkan, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“Agama adalah nasehat.” Kami bertanya; “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab; “Untuk Allah, Rasul-Nya dan para pemimpin umat Islam serta orang-orang pada umumnya.” (Riwayat Muslim no. 55)

Dan diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Aku berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendirikan shalat, membayar zakat dan memberi nasehat kepada setiap Muslim.” (Riwayat al-Bukhari no. 57)

Dengan nasehat, seorang Muslim yang hendak melakukan kesalahan akan segera meninggalkannya. Bila terlanjur melakukannya maka kesalahan yang dilakukannya tidak sampai menjadi kebiasaan. Karena itu sering orang tidak bisa melupakan kebaikan kawan yang telah menasehatinya sehingga ia termasuk orang yang taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan disitulah ia merasakan makna dan kebahagiaan pertemanan. Tetapi terkadang pula, nasehat bisa disikapi negatif, bahkan dibalas dengan kata-kata keji dan penganiayaan fisik. Untuk itu kita harus bersabar dalam menghadapi resiko memberi nasehat.

“Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasehat- menasehati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr [103] :3)

Memenuhi Undangan

Sungguh amat membahagiakan bila kita mengundang kawan dan kolega dalam suatu acara yang kita selenggarakan kemudian mereka datang. Sebaliknya akan sangat kita sesalkan dan bahkan menyakitkan bila mereka menolak datang. Karena itu, memenuhi undangan berarti membahagiakan orang lain, mematri hakekat persaudaraan dan menambah kecintaan sesama Muslim. Di samping ia juga pertanda kemurnian jiwa.

Untuk itu, ajaran Islam sangat menekankan pentingnya masalah ini. Diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“Bila di antara kamu diundang makan maka penuhilah, bila menghendaki (untuk makan) maka makanlah dan bila menghendaki (untuk tidak makan) maka tinggalkanlah (janganlah kamu makan).” (Riwayat Muslim no.1430)

Bahkan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa tidak memenuhi undangan (yang dibenarkan syariat) sebagai salah satu bentuk kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya (riwayat Muslim no. 1432).

Karena itu, jika tidak ada udzur (yang dibenarkan syariat) hendaknya kita menghadiri undangan. Memenuhi undangan bisa menambah rasa cinta, kasih sayang dan ketulusan jiwa diantara sesama. Juga dapat bermanfaat untuk saling mengenal dengan sesama undangan lain.

Menjenguk Orang Sakit

Diantara hak seorang Muslim atas Muslim lainnya seperti ditegaskan dalam hadits riwayat Muslim adalah bila ia sakit maka ia berhak untuk dijenguk. Hak adalah sesuatu yang harus dimiliki. Sebagaimana orang fakir miskin berhak atas sebagian harta orang-orang kaya. Maka orang sakit mesti dijenguk, sehingga mendapatkan haknya. Karena itu, akan sangat mulia bila lembaga-lembaga keagamaan atau sosial memperhatikan orang-orang sakit terutama dari kalangan fakir miskin dengan misalnya memberikan santunan obat-obatan, makanan bahkan membebaskannya dari biaya rumah sakit. Ada baiknya, hal ini diorganisir secara baik, ada anggota-anggota, para donatur dan giliran menjenguk secara berkelompok ke rumah sakit-rumah sakit yang ditentukan.

Bagi si sakit, dijenguk laksana menemukan oase (sumber air) di tengah gurun sahara kering. Rasa sakitnya akan sedikit terobati, apalagi bila yang menjenguk pandai menghibur dan memberikan harapan serta nasehat. Karena itu tak tanggung-tanggung, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan orang yang menjenguk si sakit dengan sabdanya (yang artinya):

“Barangsiapa menjenguk saudaranya yang sakit senantiasa dalam khurfatul-jannah sampai ia pulang.” Ditanyakan; “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan khurfatul-jannah itu?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab; “Memetik buah Surga yang telah matang.” (Riwayat Muslim no. 2568)

Begitulah, menjenguk orang sakit merupakan perbuatan yang dapat membahagiakan hati sesama Muslim, dapat meringankan beban yang dideritanya dan mengingatkannya untuk tetap bersabar dengan ujian yang sedang dialaminya.

Tidak Menjadi Beban Orang Lain

Termasuk yang dapat membahagiakan hati sesama Muslim ialah tidak menjadi beban baginya dalam urusan apapun. Karena itu, dalam hubungan antar sesama hendaknya kita selalu mengusahakan untuk bisa menolong dan membantu orang lain. Bukan sebaliknya, selalu menghujaninya dengan berbagai permintaan dan hal-hal yang membuatnya merasa sempit, tertekan dan merugi. Selalu menggantungkan kepada orang lain dan menjadi beban baginya adalah perbuatan tidak terpuji, bahkan lambat-laun akan merusak hubungan kita dengan sesama.

Para al-Salaf al-Shalih sangat menjaga diri untuk tidak merepotkan apalagi menjadi beban orang lain. Suatu ketika, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sedang berada diatas untanya, tiba-tiba cambuknya terjatuh. Sahabat yang berada dibawahnya segera hendak mengambilkannya tetapi Abu Bakar mencegah. Ia kemudian turun dan mengambilnya sendiri karena tidak mau membuat repot orang lain.

Karena itu, al-Fudhail menasehatkan agar dalam bertemu dan mengunjungi saudara hendaknya kita tidak memberikan PR (pekerjaan rumah) baginya dalam suatu masalah. Maka tepat sekali ungkapan yang terkenal di kalangan orang-orang zuhud; “Janganlah kau ingini apa yang dimiliki orang lain, niscaya mereka menyayangimu. Kasih sayang dan kebahagiaan akan tercipta manakala kita senang menolong dan tak suka menjadi beban bagi orang lain.”

Membayarkan Hutang Orang Lain

Hutang bisa membuat hati resah-gelisah. Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan kepada Allah agar dibebaskan dari lilitan hutang, dalam doanya (yang artinya):

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa gundah dan kesedihan, rasa lemah dan malas, sifat bakhil dan ketakutan, dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.” (al-Bukhari no. 2893)

Lepas dari hutang berarti kebahagiaan dan ketenangan hidup. Maka termasuk membahagiakan orang lain jika kita membayarkan hutang mereka. Dalam kehidupan orang-orang shalih dikisahkan, Masyruq pernah mempunyai hutang yang sangat banyak. Tetapi secara diam-diam Khaitsamah membayarkan dan melunasi hutang-hutang Masyruq sehingga ia terbebas dari lilitan hutang. Dan pada saat lain, Khaitsamah juga mengalami lilitan hutang yang amat banyak. Secara diam-diam pula Masyruq yang sudah membaik perekonomiannya melunasi seluruh hutang saudaranya tersebut. Dengan membayarkan hutang orang lain berarti kita memudahkan kehidupannya juga keluarganya. Kita pun dengan demikian –insya Allah- akan dimudahkan Allah dalam kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat.

Mendoakan Orang Islam

Diantara hal yang harus dimiliki oleh setiap Muslim adalah rasa peduli kepada sesamanya dengan selalu mendoakan mereka, baik yang masih hidup maupun mereka yang sudah meninggal, seperti berdoa untuk dirinya sendiri. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“Doa seorang saudara Muslim untuk saudara Muslim yang lain tanpa sepengetahuannya tidaklah ditolak.” (Riwayat al-Bazzar dengan sanad shahih 9/52 no. 3577; Lihat Shahih al-Jami’ no. 3379)

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata; “Sesungguhnya aku benar-benar mendoakan 70 orang dalam satu sujudku, aku sebut nama mereka satu-persatu.”

Imam Muhammad al-Asfahani suatu kali pernah ditanya; “Siapakah saudara yang baik itu?” Beliau menjawab; “Yaitu saudara yang sedih atas kepergianmu saat keluargamu yang lain membagi-bagikan dan bersenang-senang dengan harta warisanmu. Ia berdoa untukmu di kegelapan malam, sedang dirimu berada dalam tanah basah. Marilah memperbanyak do’a untuk saudara- saudara kita sesama Muslim. Bahkan meskipun mereka telah meninggal dunia.”

Sesungguhnya masih banyak kebaikan yang dapat kita lakukan sehingga orang lain menjadi bahagia. Ukurannya adalah diri kita sendiri. Bila kita senang dengan suatu perlakuan -dan tentu ia tidak dalam hal maksiat kepada Allah- maka pasti orang lain akan senang pula dengan perlakuan yang sama. Itulah yang semestinya terus menerus kita lakukan sehingga dengan demikian kita menjadi penabur kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain di muka bumi ini. Semoga!

Majalah Fatawaa

Posted in: Artikel