Sholat Taubat dan Kejujuran Ka’ab bin Malik Radiallahu’anhu

Posted on 6 November 2011 oleh


Memang manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun manusia yang terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali, akan tetapi manusia yang terbaik adalah manusia yang ketika dia berbuat kesalahan dia langsung bertaubat kepada Alloh dengan sebenar-benar taubat. Bukan sekedar tobat sesaat yang diiringi niat hati untuk mengulang dosa kembali. Lalu bagaimanakah agar taubat seorang hamba itu diterima?

⁠Sesungguhnya rahmat Alloh ‘azzawajalla itu luas, Dia memberikan rahmat kepada umat ini dengan membuka padanya pintu taubat dan  taubat tidak akan terputus sampai ruh berada di kerongkongan atau sampai terbitnya matahari di sebelah barat. Dan dari rahmat-Nya pula Alloh ‘azzawajalla mensyariatkan ibadah kepada umatnya  dengan sebaik-baik ibadah, bertawasul dengannnya hingga seorang hamba yang berdosa kepada RabbNya, mengharap diterima taubatnya. Salah satu ibadah tersebut adalah sholat taubat. Berikut beberapa  permasalahan yang berhubungan dengann sholat taubat dimaksud.

 

Ijma’ para ulama menetapkan bahwa sholat taubat di syariatkan, sebagaimana yang diriwayatkan dari sahabat Abu Bakar As- shiddiq radiallahuanhu bahwasanya beliau berkata: saya mendengar Rasulallah salallah alaihi wassalam bersabda: (barangsiapa dari seorng hamba yang berbuat dosa lalu bersuci, kemudian berdiri lalu tunaikan sholat 2 rakaat. dan beristigfar kepada Allah melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya, kemudia membaca ayat ini
:”وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ”)  “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Surat Ali Imran 135.)   Hadist dishohihkan Alalbani dalam shohih Aby Dawud.

Syarat Taubat Diterima

⁠Agar taubat seseorang itu diterima, maka dia harus memenuhi tiga hal yaitu: (1) Menyesal, (2) Berhenti dari dosa, dan (3) Bertekad untuk tidak mengulanginya.

Taubat tidaklah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa yang dikerjakan. Barang siapa yang tidak menyesal maka menunjukkan bahwa ia senang dengan perbuatan tersebut dan menjadi indikasi bahwa ia akan terus menerus melakukannya. Akankah kita percaya bahwa seseorang itu bertaubat sementara dia dengan ridho masih terus melakukan perbuatan dosa tersebut? Hendaklah ia membangun tekad yang kuat di atas keikhlasan, kesungguhan niat serta tidak main-main. Bahkan ada sebagian ulama yang menambahkan syarat yang keempat, yaitu tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. sehingga kapan saja seseorang mengulangi perbuatan dosanya, jelaslah bahwa taubatnya tidak benar. Akan tetapi sebagian besar para ulama tidak mensyaratkan hal ini.​

⁠Sebab-sebab sholat taubat

Sebab sholat taubat adalah jika seorang muslim yang terjatuh pada dosa entah dosa kecil maupun besar, kemudian wajib baginya secara langsung untuk bertaubat, melakukan sholat dua rakaat,  serta melakukan amalan-amalan sholeh. Amalan yang disyariatkan ini adalah sholat taubat, karena dengan sholat ini ia bertawasul pada Rabbnya dengan mengharap diterima taubatnya dan diampuni dosa-dosanya.​

⁠Waktu sholat taubat

Disunnahkan   bagi seorang muslim untuk mengerjakan sholat ini ketika berazam bartaubat setelah melakukan dosa, entah mengerjakan sholatnya setelah berbuat dosa ataupun mengakhirkannya.

Selayaknya, bagi seorang pendosa untuk bersegera melakukan taubat, karena taubat itu akan diterima sebelum terjadi salah satu penghalang berikut:

Ketika ruh sudah sampai di kerongkongan. Bersabda Rasulallah shalallah alaihi wassalam: “Sesungguhnya allah menerima taubat seorng hamba sebelum sekarat (ruh sudah ada di kerongkongan)”  dihasankan oleh Al-albani dalam shohih Tirmidzi no 3537.

Apabila matahari terbit di sebelah barat. Bersabda rasulallah shalallah alaihi wasalam: “Barangsiapa yang taubat sebelum matahari terbit dari sebelah barat maka allah menerima taubatnya”. (HR. muslim no 2703).

Sholat ini dikerjakan di semua waktu, termasuk didalamnya waktu-waktu yang dilarang untuk menunaikan sholat seperti setelah sholat ashar, karena sholat taubah merupakan sholat yang mempunyai penyebab,maka tidaklah  di kerjakan kecuali ketika ada penyebabnya.

⁠Tata cara sholat taubat:

Jumlahnya 2 rakaat sebagaimana di hadist Abu bakar As shidiq radiallahu anhu.

Dikerjakan bagi yang bertaubat sendirian, karena termasuk dalam sholat sunnah yang tidak di syariatkan berjamaah dan disunahkan kepadanya untuk beristigfar kepada allah sebagimana dalam hadist Abu Bakar radiallahuanhu diatas.

Dan Nabi shalallah alaihi wasalam tidak pernah mengkususkan bacaan khusus dalam sholat. Maka dalam bacaan sholat taubat terserah dalam membaca surat-surat.

⁠Dan disunahkan bagi org yang bertaubat bersamaan sholat taubat melakukan amalan-amalan sholeh . Allah taala berfirman :

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى

Artinya  :  Dan sesungguhnya aku maha pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal sholeh, kemudian tetap dijalan yang benar.(Thaaha: 82)

⁠Dan sebaik-baik amal sholeh yang seharusnya dilakukan orang-orang yang bertaubat adalah shodaqoh, bahwasanya shodaqoh adalah penyebab yang agung yang dapat menghapus dosa, Allah ta’aala berfirman :

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ .

⁠Artinya: “Jika kamu menampakan sedakah kamu maka itu adalah baik sekali, dan jika kamu menyembuyikannya dan kamu berikan pada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu, dan Allah akan menghapuskan dari mu sebagian kesalahan-kesalahanmu dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”(Al- Baqarah ayat 271)

⁠Dan telah tetap dari Ka’ab radiallahu anhu berkata, “Saya berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, di antara tanda tobatku itu adalah menghabiskan seluruh hartaku untuk disedekahkan buat kepentingan agama Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Tahanlah dulu sebagian dari hartamu, sebab yang demikian itu adalah lebih baik bagimu.’ Saya berkata, ‘Saya masih memegang bagianku berupa harta di Khaibar.'” (HR. Bukhari Bab 19 tentang Zakat).

⁠Kisah Taubat dan Kejujuran Ka’ab bin Malik radiallahu anhu

⁠Ka’ab bin Malik radiallahu anhu adalah salah seorang sahabat Nabi yang mendapat anugerah Allah berupa kepiawaian dalam bersyair dan berjidal. Syair-syairnya banyak bertemakan peperangan. Kemampuan sebagai penyair ini, mengantarkannya menduduki posisi khusus di sisi Nabi, selain dua sahabat yang lain, yaitu Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Ka’ab bin Malik termasuk pemuka sahabat dari kalangan Anshar yang berasal dari suku Khazraj. Nama lengkapnya ialah ‘Amr bin Al Qain bin Ka’ab bin Sawaad bin Ghanm bin Ka’ab bin Salamah. Pada masa jahiliyah, ia dikenal dengan kunyahnya (panggilan) Abu Basyir.

⁠Kisah kejujuran Ka’ab bin Malik ini, berawal saat Rasulullah telah mengambil keputusan untuk menyerang Romawi. Beliau memobilisasi para sahabat untuk tujuan itu. Kaum rnuslimin segera melakukan persiapan dan berlomba-lomba menginfakkan harta yang mereka miliki.

⁠Di tengah kesibukan kaum muslimin melakukan persiapan, ada seorang sahabat yang belum memulainya. la bernama Ka’ab bin Malik. Kali ini, Allah hendak mengujinya dengan perang Tabuk.

⁠Pada masa tuanya, Ka’ab bin Malik menuturkan kisahnya kepada putranya : “Aku tidak pernah absen dalam satu peperangan pun bersama Rasulullah kecuali dalam perang Tabuk dan perang Badr. Tatkala Rasulullah berangkat bersama pasukan, aku masih terlambat dan belum sempat melakukan persiapan. Batinku berharap, aku bisa menyusul mereka. Namun akhirnya, langkahku benar- benar terhambat.

⁠Kesedihanku bertambah, ketika aku tahu bahwa orang-orang yang tidak bergabung dalam jihad itu hanya orang-orang yang tertuduh munafik atau kaum yang lemah fisiknya”.

⁠Saat Rasulullah tiba di Tabuk, Beliau bertanya: “Apa yang terjadi dengan Ka’ab?”

⁠Seorang laki-laki dari kaumku dengan kiasan menjawab,”Baju kesayangannya telah menahannya”. Namun Mu’adz menangkisnya,”Sungguh buruk perkataanmu. Demi Allah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali baik saja”. Rasulullah terdiam.

⁠Ketika Rasulullah, kembali dari peperangan, orang-orang yang absen segera menemui Beliau, untuk menyampaikan alasan-alasan mereka. Jumlah mereka delapan puluh orang lebih. Rasulullah pun menerima alasan-alasan mereka dan memohonkan ampun bagi mereka.

⁠Sempat terbesit dalam benakku untuk mengajukan alasan dusta kepada Beliau, agar aku selamat dari kemarahan Beliau. Namun kuurungkan niatku dan kubulatkan tekad untuk berkata jujur kepada Beliau.

⁠Aku mengucapkan salam kepada Beliau, Beliau tersenyum kecut kepadaku.

⁠Beliau berkata,”Kemarilah!”
⁠Aku pun mendekat dan duduk di hadapan Beliau. Beliau bertanya kepadaku,”Apa yang menahanmu? Bukankah engkau telah mempertaruhkan punggungmu?”

⁠Aku menjawab,”Benar, wahai Rasulullah. Demi Allah, seandainya saat ini aku duduk di hadapan orang selain engkau, tentu aku sampaikan segala argumentasi yang dapat menyelamatkanku dari kemarahan, lantaran aku ahli berjidal (pandai bicara). Namun aku sungguh mengetahui, seandainya hari ini aku berdusta supaya engkau memaklumiku, niscaya Allah yang akan memberitahukan kepada engkau. Aku mengatakan alasan yang sebenarnya dengan jujur kepadamu. Dan sungguh, aku berharap ampunan Allah dengan kejujuranku. Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki alasan saat aku berdiam di rumah dan tidak ikut serta perang bersamamu.”

⁠Beliau berkata,”Laki-laki ini telah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah memutuskan perkaramu,” aku pun berdiri dan meninggalkan Beliau.

⁠Sekelompok laki-laki dari Bani Salimah mengejarku seraya berkata,”Demi Allah, kami tidak mengetahui engkau melakukan dosa sebelum ini. Mengapa engkau tidak beralasan seperti yang dilakukan orang-orang itu? Sungguh, permohonan ampun Rasulullah untukmu akan menghapus dosamu.”

⁠Mereka terus membujukku hingga aku berpikir untuk kembali kepada Rasulullah dan berdusta kepada Beliau. Aku bertanya kepada mereka,”Adakah orang yang mengalami hal yang sama sepertiku?”

⁠Mereka menjawab,”Ada! Dua orang laki-laki yang mengatakan alasan seperti alasanmu. Dan Rasulullah mengatakan perkataan yang sama kepada mereka, seperti yang Beliau katakan kepadamu.”

⁠Aku bertanya,”Siapa mereka?” Mereka menjawab,”Murarah bin Ar Rabi’ Al ‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al Waqifi.”

⁠Mereka adalah dua orang sahabat yang ikut dalam perang Badr dan pada diri mereka terdapat suri tauladan. Aku pun berlalu meninggalkan mereka.

⁠Sejak saat itu, Rasulullah melarang para sahabat berbicara dengan kami, tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Dua sahabatku, mereka tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap kami. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak pernah berhenti menangis. Sedangkan aku adalah orang yang termuda dan terkuat di antara mereka. Kukuatkan hatiku untuk menemui orang-orang, berharap akan ada seseorang yang menyapaku. Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku.

⁠Ketika aku memasuki masjid, kuucapkan salam kepada Rasulullah. “Apakah Beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku?” tanya hatiku.

⁠Aku pun shalat dan mengambil posisi terdekat dengan Beliau. Aku mencuri-curi pandang kepada Beliau. Ketika aku fokuskan pandangan pada shalatku, Beliau memandangku. Dan bila aku meliriknya, Beliau memalingkan wajahnya dariku.

⁠Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian berat kurasakan. Aku pun menemui Abu Qatadah, sepupuku dan orang yang sangat kucintai. Aku memanjat dinding rumahnya dan kuucapkan salam padanya. Namun dia tidak menjawab salamku. Aku berkata memelas padanya, “Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya?”

⁠la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataanku. Kuulangi kata-kataku tadi berkali-kali, hingga ia berujar singkat: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Air mataku pun meleleh tanpa bisa kutahan. Aku berlalu.

⁠Suatu ketika, saat aku berjalan di pasar kota Madinah, seorang laki-laki dari Syam yang menjual makanan di pasar itu bertanya kepada orang-orang: “Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku?”

⁠Orang-orang pun memberitahukannya. Dia pun mendatangiku. Kemudian menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat itu:

⁠”Telah sampai berita kepadaku, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu.Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan.Bergabunglah dengan kami, maka kami akan rnenolongmu”.

⁠Aku berkomentar,”lni pun cobaan untukku,” lalu aku lempar surat itu ke dalam tungku api.

⁠Setelah berlalu empat puluh hari semenjak Rasulullah dan para sahabat mengisolasi kami, tiba-tiba datang utusan Beliau dengan membawa perintah agar aku menjauhi istriku. Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang harus kulakukan?”

⁠Sang utusan menjawab,’Tidak, tapi jauhilah ia dan jangan engkau sentuh.”

⁠Aku berkata kepada istriku, “Kembalilah kepada keluargamu.Tinggallah bersama mereka sampai Allah memutuskan perkara ini.”

⁠Keadaan seperti itu terus berlanjut. Hingga tibalah suatu pagi selepas aku shalat shubuh. Kondisiku saat itu seperti yang Allah kisahkan, terasa sempit jiwaku dan bumi yang ku pijak seakan tak kukenali lagi.

⁠Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak: “Wahai, Ka’ab bin Malik! Berbahagialah!” Aku pun segera menghaturkan syukur dengan sujud kehadiratNya. Sungguh telah datang jalan keluar bagi kami.

⁠Rasulullah telah mengumumkan kepada para sahabat setelah shalat Shubuh. Allah telah menerima taubat kami.

⁠Orang-orang berbondong-bondong menemui kami dan mengekspresikan kegembiraan mereka atas berita ini. Sungguh tak terlukiskan kebahagiaanku saat itu. Aku memberikan dua baju yang kukenakan kepada laki-laki yang datang membawa kabar gembira itu. Padahal saat itu, aku tidak memiliki baju selain kedua baju itu. Oleh karena itu, aku meminjam baju dan bergegas ke masjid menemui Rasulullah.

⁠Saat itu Beliau dikelilingi para sahabat. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku, kemudian ia menggamit tanganku dan menyalamiku seraya mengucapkan selamat untukku. Sungguh, tidak ada seorang pun yang berdiri dan melakukan seperti yang ia lakukan, hingga aku pun tidak pernah melupakan kebaikannya itu.

⁠Aku pun masuk masjid dan mengucapkan salam kepada Rasulullah. Saat itu wajah Beliau berseri-seri dan bersinar bak rembulan. Tatkala aku sudah duduk di depan Nabi, Beliau berkata: “Berbahagialah dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu”.

⁠”Apakah pengampunan ini darimu, wahai Rasulullah? ataukah dari Allah?” tanyaku.

⁠Beliau menjawab, “Tidak! Pengampunan ini datang langsung dari sisi Allah.”

⁠Aku berkata kepada Beliau: “Wahai, Rasulullah! Sungguh, sebagai cerminan nyata taubatku, aku sedekahkan hartaku di jalan Allah”.

⁠Beliau berkata, “Tahanlah sebagian hartamu untuk dirimu,karena itu lebih baik bagimu.”

⁠Aku mentaati perintah Beliau dan berkata: “Kalau begitu, aku tahan anak panahku yang kugunakan dalam perang Khaibar. Dan sungguh Allah telah menyelamatkanku dari perkara pelik ini karena kejujuran.

⁠Maka sebagai wujud taubatku pula, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur”. Sungguh, aku tidak mengetahui ada orang lain yang mendapat ujian kejujuran seperti Allah mengujiku. Hingga sampai saat ini, aku tidak pernah bicara dusta satu kali pun sejak berjanji kepada Rasulullah. Dan aku morion kepada Allah agar menjagaku pada sisa umurku ini”.

⁠Demikianlah sosok Ka’ab bin Malik. Seorang mujahid di jalan Allah dengan pedang dan lisannya. Sosok patriot yang memiliki kejujuran setegar batu karang. Tak terkikis oleh ujian yang menyempitkan hatinya. Dijalaninya sisa hidupnya dengan selalu menggenggam kejujuran. Pada masa tuanya, ia kehilangan penglihatannya. Dan putranya, Abdullah yang menjadi pemandu sejak Allah menghilangkan penglihatannya. Ka’ab bin Malik wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Semoga rahmat dan keridhaan Allah senantiasa tercurah atas diri penyair Rasulullah ini.

⁠Maraji:

Artikel Hasby M Al-Faqir (Mahasiswa Darul Hadist Syiher Yemen) di milis assunnah-qatar

Adz Dzahabi, Siyar A’lamin Nubala’, Muassasah Ar Risalah, Cet XI,Th. 1422 H – 2001M

Tafsir Ibni Katsir, Dar At Thayyibah, cet I, tahun 1422 H/2002M

Shafiyyur Rahman At Mubarak Furi, Ar Rahiqul Makhtum, cet I , tahun 1417 H/ 1997M

Shahih Bukhari no 4066 (Versi Lidwa Pusaka)

Artikel: assunnah qatar