Mengenal Najis & Cara Menghilangkannya

Posted on 25 November 2011 oleh


Berbagai interaksi hidup sehari-hari seseorang sering tidak luput dari terkena najis. Bagi orang kafir jelas tidak masalah najis atau tidak najis. Berbeda dengan orang muslim. Adanya najis yang menempel di tubuh, pakaian, bejana atau tempat shålat tentu saja menganggu aktivitas ibadah seorang muslim. Sudah barang tentu mengenal bentuk-bentuk najis menjadi sangat berarti bagi setiap muslim. Tanpa mengenal dan mengetahui cara menghilangkannya, beribadah menjadi sesuatu yang mustahil.

Berikut kami paparkan tentang najis, macam-macamnya dan cara menghilangkannya. Semoga menambah ilmu dan wawasan kita

Tanya: Apakah najis itu? Ada berapa macamnya? Tolong sebutkan dengan jelas!

Jawab: Najis terbagi menjadi dua: ‘ainiyah (zat) dan hukmiyah (hukum). Najis ‘ainiyah (zat) adalah segala yang dianggap kotor oleh naluri yang sehat. Adapun menurut urf (kebiasaan) adalah setiap sesuatu yang haram diambil (dikonsumsi/dimanfaatkan) disebabkan zatnya (yang najis), sekalipun memungkinkan untuk diambil tanpa (memandang) keharamannya, kotornya, maupun bahayanya bagi badan atau akal. Dan (najis ‘ainiyah) ini tidak akan bisa suci sama sekali.[1] Yang kedua adalah najis hukmiyah (secara hukum, bukan zat) yaitu suatu najis yang mengenai tempat (benda) yang suci.[2] Dan najis itu ada tiga macam: tsaqilah (berat), mutawassithah (sedang), dan khafifah (ringan).

Tanya: Apa contoh najis yang berat? Bagaimana cara menyucikan (tempat/benda) yang terkena najis ini? Sebutkan dalilnya!

Jawab: (Contohnya) yaitu najisnya anjing dan babi serta apa pun yang keluar/terlahir dari keduanya atau salah satunya. Cara menyucikan (tempat/benda) yang terkena olehnya adalah dengan mencucinya (tempat/benda tersebut) sebanyak 7 kali, salah satunya dengan tanah. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu- secara marfu‘ (sampai kepada Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- ):

-1a« إِذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا »

“Jika anjing menjilat bejana seseorang di antara kamu maka cucilah tujuh kali.”[3] (Muttafaq ‘alaih)

Dan dalam riwayat Muslim (dengan lafal),

-1b« طُهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ »

“Sucinya bejana seseorang di antara kamu jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah.”

Jika hukum ini ditetapkan untuk anjing, maka babi lebih buruk lagi karena adanya keterangan syariat atas keharamannya dan keharaman memanfaatkannya. Sehingga hukum (kenajisan yang berat) ini ditetapkan (pula) untuk babi dengan cara tanbih (isyarat)[4]. Ketidakadaan nash syariat (khusus) tentang (kenajisan) babi ini karena masyarakat Arab ketika itu tidak pernah memelihara babi.

Tanya: Apa contoh najis yang sedang? Bagaimana cara menyucikan (tempat/benda) yang terkena olehnya? Apa dalilnya?

Jawab: Contohnya, air kencing (manusia) selain (kencingnya) bayi laki-laki yang belum makan makanan (selain ASI) dengan lahap[5], demikian pula darah haid, dan semua yang tidak termasuk najis berat dan najis ringan. Cara menyucikannya (tempat/benda tersebut) adalah dengan mencuci bagian yang terkena najis sampai yakin telah hilang. Tidak mengapa jika masih tersisa warna atau baunya atau kedua-duanya; bila sulit dihilangkan. Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shalallohu ‘alaihi wasallam- bersabda tentang darah haid yang mengenai pakaian,

-2تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ بِالْمَاءِ ثََمََّ تُصَلِّيْ فِيْهِ

“Hendaklah ia kerik pakaiannya (dengan kuku), lalu menggosoknya dengan air, kemudian mengguyurnya dengan air (tanpa mencucinya). Setelah itu dia boleh shalat dengan mengenakan pakaian itu.” (Muttafaq ‘alaih) [6]

Dan diriwayatkan dari Khaulah binti Yasar, dia berkata, “Ya Råsulullåh, aku tidak punya baju kecuali hanya satu, dan ketika haid, aku memakai baju itu juga.” Maka Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam-  bersabda,

-3فَإِذَا طَهَرْتِ فَاغْسِلِيْ مَوْضِعَ الدَّمِ ثُمَّ صَلِّيْ فِيْهِ

“Bila engkau telah suci, maka cucilah bagian yang terkena darah lalu shalatlah dengannya.”

Lalu Khaulah bertanya lagi, “Sekalipun bekasnya belum hilang?” Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam-  menjawab,

-4يَكْفِيْكِ الْمَاءُ وَلاَ يَضُرُّكِ أَثَرُهُ

“Sudah cukup air itu bagimu, dan tidak mengapa bekas darahnya.” [7]

Tanya: Bila tempat yang terkena najis tersembunyi (tidak diketahui pasti), maka bagaimana hukumnya?

Jawab: Pakaian atau badan yang terkena najis hendaknya dibasuh sampai yakin (semuanya) telah terbasuh (dengan air), hingga terlepas dari tanggungan (kewajiban) dengan yakin. Jika najis itu tersembunyi di tanah lapang (tempat yang luas) atau yang semisalnya, maka dibolehkan shalat di tempat tersebut tanpa perlu membasuhnya atau mencari-cari (tempat lain).

Tanya: Bagaimana cara membersihkan permadani (karpet dan semisalnya) yang lebar? Apakah harus diperas ketika mencucinya setelah materi najis itu dibuang (dihilangkan)?

Jawab: Adapun memeras, maka sebisa mungkin dilakukan supaya air dapat terpisah dari tempat yang terkena najis. Kalau tidak memungkinkan, karena permadaninya licin atau karena panjang dan lebar dan yang semisalnya yang tidak mungkin untuk diperas, maka cukup dengan cara memukul-mukul, menginjak, membolak-balik, atau menekannya dengan benda berat.

Tanya: Apa contoh najis yang ringan? Bagaimana cara menyucikan (tempat/benda) yang terkena olehnya? Dan apa dalilnya?

Jawab: Contohnya adalah air kencing bayi laki-laki yang masih menyusu yang belum makan makanan dengan lahap. Dan cara menyucikan (tempat/benda) yang terkena olehnya dengan memercikinya dengan air. Hal ini berdasarkan hadits Ummu Qais binti Mihshan bahwa dia membawa bayinya yang masih kecil yang belum makan makanan (selain ASI) kepada Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- , lalu anak itu mengencingi pakaian beliau -shalallohu ‘alaihi wasallam-. Maka beliau meminta air, kemudian beliau memercikkan air tersebut pada pakaian (yang terkena kencing) tanpa mencucinya. (Riwayat Jamaah).

Dan dalam hadits Abu as-Samh disebutkan bahwa Nabi -shalallohu ‘alaihi wasallam-  bersabda,

-5يُغْسَلُ مِنَ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ

“Dicuci bila terkena kencing bayi perempuan, dan diperciki bila terkena kencing bayi laki-laki.” [8]

Dalam hadits dari Ummu al-Fadhl disebutkan bahwa Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

-6يُنْضَحُ مِنْ بَوْلِ الذَّكَرِ وَيُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ اْلأُنْثَى

“Diperciki bila terkena kencing anak laki-laki dan dicuci bila terkena kencing anak perempuan.[9]

Disebutkan dalam hadits Ali bahwa Nabi -shalallohu ‘alaihi wasallam-bersabda,

-7بَوْلُ الْغُلاَمِ الرَّضِيْعِ يُنْضَحُ وَبَوْلُ الْجَارِيَةِ يُغْسَلُ

“Kencing anak laki-laki yang masih menyusui cukup diperciki, sedangkan kencing anak perempuan harus dicuci.” [10]

Tanya: Dengan apa menyucikan tanah (lantai) dan yang sejenisnya bila terkena najis yang cair atau padat lalu dihilangkan? Jelaskan beserta dalilnya!

Jawab: Untuk menyucikan tanah, batu, kebun, atau kolam bila terkena najis yang berbentuk cair meskipun berasal dari anjing atau babi maupun yang keluar/terlahir dari keduanya, cukup dengan mengalirkan air padanya sebanyak-banyaknya sampai hilang warna dan baunya jika mampu/memungkinkan. Sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik, “Ketika kami bersama Nabi -shalallohu ‘alaihi wasallam- di dalam masjid, datang seorang Arab Badui dan berdiri sambil kencing. Maka berkatalah para sahabat Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- , “Hei, hei (berhenti)!” Maka Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam-  bersabda, “Janganlah kalian menghentikannya.” Maka para sahabat membiarkannya sampai dia selesai. Lalu Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- memanggilnya dan bersabda, “Sesungguhnya tempat ini adalah masjid, tidak pantas untuk kencing dan kotoran. Sesungguhnya masjid-masjid itu untuk zikir kepada Allah -subhanahu wa ta’alaa- , shalat, dan membaca al-Quran.” Kemudian beliau menyuruh salah seorang shahabat supaya membawa seember air lalu disiramkan padanya (tanah yang dikencingi). (Muttafaq ‘alaih).

Tanya: Bagaimana cara menyucikan sepatu dan sandal jika menginjak najis? Sebutkan dalilnya!

Jawab: Cara menyucikannya dengan menggosok-gosoknya ke tanah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah – radhiyallohu ‘anhu –   bahwa Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam-  bersabda,

-8إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمُ اْلأَذَى بِخُفَّيْهِ، فَطَهُوْرُهَا التُّرَابُ، وفي لفظ: فَإِنَّ التُّرَابَ لَهُ طَهُوْرٌ

“Jika sepatu salah seorang di antara kalian terkena kotoran, maka pensucinya adalah tanah.” Dalam lafal yang lain: “maka tanah itu sebagai pensucinya.” Riwayat Abu Dawud.[11]

Diriwayatkan dari Abu Said -rodhiyallohu ‘anhu- , dia berkata “Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

-9إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِيْ نَعْلَيْهِ أَذًى أَوْ قَذَرٌ فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيْهِمَا

“Jika salah seorang di antara kamu datang ke masjid, maka hendaknya dia melihat [alas kakinya]. Jika dia melihat kotoran pada sandalnya, maka hendaknya dia menggosok-gosoknya (ke tanah) kemudian shalatlah dengan memakainya.” [12]

Tanya:Ada berapa macamkah pembagian bangkai ditinjau dari suci dan najisnya?

Jawab: Terbagi menjadi dua. Pertama, bangkai yang suci, yaitu mayat manusia, bangkai ikan, belalang, dan hewan (serangga) yang tidak memiliki aliran darah. Kedua, bangkai yang najis, yaitu semua bangkai selain yang suci (tadi).

Tanya: Sebutkan dalil dari al-Quran dan al-Sunnah atas sucinya mayat Bani Adam!

Jawab: Allah -subhanahu wa ta’alaa- berfirman,

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak Adam. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah kami ciptakan.” (Al-Isra:70)

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin Yaman, bahwa Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- suatu ketika berpapasan dengannya, sementara dirinya ketika itu dalam keadaan junub, maka diapun menjauhi beliau lalu mandi. Setelah itu dia datang menemui Råsulullåh dan berkata, “Aku tadi dalam keadaan junub.” Maka Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

-10إِنَّ الْمُسْلِمَ لاَ يَنْجُسُ

“Sesungguhnya seorang muslim itu tidak najis.”[13]

Tanya: Apa dalil atas sucinya bangkai ikan dan belalang? Jelaskan!

Jawab: Dalilnya adalah firman Allah -subhanahu wa ta’alaa-,

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu.” (Al-Maidah:96)

Dan berdasarkan sabda Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- tentang laut,

-11«هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ»

“Dia suci airnya dan halal bangkainya.“[14].

Dan berdasarkan hadits Ibnu Umar, dia berkata, “Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

-12«أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ: فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ: فَالْجَرَادُ وَالْحُوْتُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ: فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ»

“Telah dihalalkan untuk kita dua macam bangkai dan dan dua macam darah. Adapun dua bangkai adalah bangkai belalang dan ikan, sedangkan dua macam darah adalah limpa dan hati.”[15]

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Aufa, dia berkata, “Kami ikut berperang bersama Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- sebanyak tujuh peperangan, di mana kami makan bersama beliau dengan lauk belalang.” (Muttafaq ‘alaihi).

Diriwayatkan dari Jabir, dia berkata, “Kami pernah berperang melawan pasukan yang kuat, dan panglima kami saat itu adalah Abu Ubaidah. Lalu kami merasa sangat lapar. Kemudian laut mendamparkan bangkai seekor ikan paus yang belum pernah kami lihat yang disebut Anbar. Maka kami pun memakannya selama setengah bulan. Kemudian Abu Abaidah mengambil salah satu tulangnya, ternyata orang bisa lewat di bawah tulang itu. Tatkala sampai (di Madinah), kami ceritakan hal itu kepada Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- , maka Råsulullåh bersabda,

-13«كُلُوْا رِزْقاً أَخْرَجَهُ اللهُ إِلَيْكُمْ، وَأَطْعِمُوْنَا إِنْ كَانَ مَعَكُمْ»

“Makanlah rezeki yang telah Allah keluarkan untuk kalian, dan jamulah kami jika ikan masih ada pada kalian.” Jabir berkata, “Maka kami kirimkan sebagian dari ikan itu, lalu Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam-  memakannya.” (Muttafaq ‘alaih).[16]

Tanya: Apa dalil atas sucinya binatang yang tidak mempunyai aliran darah?

Jawab: Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah, dia berkata, “Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

-14«إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْـزَعْهُ، فَإِنَّ فِيْ أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءٌ وَفِي الآخَرِ شِفَاءٌ»

“Bila ada lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kamu, hendaknya dia menenggelamkan lalat itu kemudian mengeluarkannya. Hal itu karena di salah satu sayapnya ada penyakit dan di sayap yang lain ada penawar.“[17]

Dan ada tambahan dalam riwayat Abu Dawud, “Hendaknya dia menjaga diri dari sayap yang ada penyakitnya.” (Dengan cara menenggelamkan lalat tersebut). Ini merupakan dalil tentang lalat.

Maka hukum untuk lalat ini berlaku juga untuk binatang yang tidak mempunyai aliran darah, seperti kumbang, lebah, laba-laba, dan binatang (serangga) lainnya yang tidak mempunyai aliran darah. Karena suatu hukum bersifat umum disebabkan keumuan sebabnya; dan hukum tersebut hilang dengan hilangnya sebab tersebut.

Tanya: Bagaimana hukum liur (bekas jilatan) kucing dan yang sejenisnya?

Jawab: Hukum liur (bekas jilatan) kucing adalah suci, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Qatadah bahwa Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- bersabda tentang kucing,

-15«إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ»

“Sesungguhnya ia bukanlah najis, sebab ia termasuk binatang yang berkeliaran di sekitar kamu.”[18]

Diriwayatkan dari Aisyah -rodhiyallohu ‘anhaa- dari Nabi -shalallohu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau mendekatkan sebuah bejana air untuk seekor kucing, sehingga kucing itu minum (darinya), kemudian Råsulullåh -shalallohu ‘alaihi wasallam- berwudhu dari sisanya.[19]

Adapun hewan yang semisalnya, maka hukumnya diambil dari hukum ini disebabkan adanya sebab yang sama.[20]

[1] Seperti najisnya babi dan kotorannya. Walaupun dibasuh/dicuci sampai seribu kali, tetap saja babi itu najis. (red.)

[2] Maksudnya bahwa suatu tempat atau benda yang asalnya suci bila terkena najis, maka secara hukum menjadi najis. Dan akan kembali menjadi suci bila najis tersebut hilang darinya. (red.)

[3] Shåĥiĥ al-Bukhåri no. 170 dan Shåĥiĥ Muslim no. 279.

[4] Yang dimaksud di sini adalah tanbih bil adna ‘alal a’la, yaitu menetapkan hukum untuk sesuatu yang lebih rendah yang mengisyaratkan bahwa yang lebih tinggi darinya lebih utama untuk ditetapkan hukum tersebut padanya. (red.)

[5] Air kencing bayi laki-laki yang belum diberi tambahan makanan selain ASI tergolong najis yang ringan. (red.)

[6] Shåĥiĥ al-Bukhåri no. 225 dan Shåĥiĥ Muslim no. 291.

[7] Sunan Abi Dawud no. 365, Musnad Aĥmad II/364 yang dalam sanadnya ada Ibnu Lahi’ah perawi yang dha’if, Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dalam sanadnya ada al-Wazi’ bin Nafi’, juga perawi yang dha’if. Lihat Majma’ al-Zawaid (I/282).

[8] Sunan Abi Dawud no. 376, Sunan al-Nasai no. 304, Sunan Ibni Majah no. 526S.

[9] Musnad Aĥmad I/97, Sunan Abi Dawud no. 375,  dan Sunan Ibni Majah no. 522.

[10] Ahmad (I/137) dan Tirmidzi (no. 610). Tirmidzi menyatakannya sebagai hadits hasan sahih.

[11] Abu Dawud (no. 385 dan 386).

[12] Abu Dawud (no. 650). Disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah.

[13] Jamaah, kecuali Bukhari dan Tirmidzi [Muslim (no. 372), Abu Dawud (no. 230), Nasa’i (no. 267, 268), Ibnu Majah (no. 535)]. Jamaah pun meriwayatkan hadits yang serupa dari hadits Abu Hurairah t. Bukhari (I/422) berkata, Ibnu Abbas berkata, “Seorang muslim itu tidak najis baik dalam keadaan hidup maupun dalam keadaan mati.”

[14] Arba’ah [Tirmidzi (no. 69), Abu Dawud (no. 83), Nasa’i (no. 59, 332, 4350), Ibnu Majah (no. 386)], dan Ibnu Abi Syaibah (I/122). Serta diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 111), demikian juga Imam Malik (no. 1058), Syafi’i (I/7), dan Ahmad (II/237, 361).

[15] Diriwayatkan oleh Ahmad (II/97) dan Ibnu Majah (no. 3314).  Dan ini lafal Imam Ahmad.

[16] Bukhari (no. 4104), Muslim (no. 1935). Dan ini lafal Imam Bukhari.

[17] Bukhari (3141, 3142, 5445), Abu Dawud (no. 3844).

[18] Dikeluarkan oleh Arba’ah [Tirmidzi (no. 92), Abu Dawud (no. 75, 76), Nasai (no. 68, 340), Ibnu Majah (no. 367)], dan dishahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah (no. 104).

[19] Daruquthni (no. 21).

[20] Anjing dan babi tidak termasuk dalam sabda Råsulullåh-shalallohu ‘alaihi wasallam- sebagai hewan yang berkeliaran di sekitar manusia. Tentang anjing dan babi ada hukum tersendiri sebagaimana telah dijelaskan. Pada zaman Nabi memang tidak ada anjing atau babi yang berkeliaran di sekitar manusia. (red.)

sumber: atturots.or.id

Posted in: Fikih