Meneladani Nabi Ibrahim ’Alaihi Salaam

Posted on 13 Desember 2011 oleh


Allâh Ta’ala telah menciptakan jin dan manusia dan mengujinya dengan berbagai kenikmatan-Nya yang agung dan anugerah-Nya yang berlimpah. Sebagian manusia ada yang memanfaatkannya dengan baik dan bersemangat dalam memenuhi kewajibannya, dan sebagian lagi ada yang lalai terhadap apa yang telah menjadi kewajibannya. Di antara ujian yang diberikan Allâh Ta’ala atas umat manusia saat ini, yaitu agar mereka ber-ittiba’ (mengikuti) Rasul-Nya, Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.

Para nabi berada di atas agama yang sama, yakni ber-tauhid (beribadah semata-mata hanya kepada Allâh Ta’ala) meskipun dengan syariat yang mungkin berbeda. Sehingga, mengikuti Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam merupakan bagian dari mengikuti jejak para nabi dan sekaligus dibarengi dengan kecintaan terhadap mereka.

Apabila seorang hamba meyakini bahwa seluruh nabi adalah sebaik-baik manusia ciptaan Allâh Ta’ala dan mereka adalah hamba-hamba yang berhak mendapatkan pertolongan Allâh Ta’ala, maka ia juga akan menyakini pentingnya arti meneladani para nabi. Terlebih hal itu telah dipertegas oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allâh,
maka ikutilah petunjuk mereka.
Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur`ân).”
Sesungguhnya Al-Qur`ân itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat”.
(Qs. al-An’âm/6 : 90)

Melalui firman-Nya (Al-Qur’an) Allâh Ta’ala telah menceritakan kisah para nabi dalam banyak ayat. Yang terbaik di antara mereka mendapat sebutan sebagai ulul-‘azmi di kalangan para rasul, dan sebaik-baik mereka adalah al-khalilân (dua kekasih Allâh Ta’ala).

Kisah-kisah dalam Al-Qur’an tersebut pasti bukanlah sesuatu yang sia-sia. Allâh Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman.”
(Qs. Yûsuf/12 ayat 111)

Firman Allâh Ta’ala, yang artinya:

“Dan semua kisah dari rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pelajaran dan peringatan bagi orangorang yang beriman.”
(Qs. Hûd/11 ayat 120)

Demikian juga dengan kisah Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam.

Namun, sebelum kita mengkaji sebagian kisah perjalanan hidup Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam, ada beberapa hal mendasar yang perlu kita perhatikan dengan seksama.[1]

Pertama, manhaj nabawi yang diwariskan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dalam tazkiyatun-nufûs (pensucian jiwa) adalah manhaj seluruh nabi. Bahkan itu merupakan salah satu rukun kenabian dan merupakan tugas utama yang dipikul Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Hal ini pula yang telah menjadi rukun utama dakwah Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam sebagaimana difirmankan Allâh Ta’ala (Lihat surat al-Baqarah/2 ayat 127-129).

Kedua, tazkiyatun-nufûs merupakan prinsip dasar dalam mewujudkan kehidupan secara Islami berlandaskan manhaj Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dalam menggapai kebahagiaan hakiki.

Ketiga, metode pendidikan modern yang dianggap mampu memberikan jalan keluar bagi banyak problematika ternyata menjadi senjata tajam yang justru dapat membahayakan umat Islam dalam semua sisi kehidupan mereka, lantaran metode tersebut kerap kali berseberangan dengan manhaj yang diterapkan oleh para nabi atas umat mereka dengan bimbingan wahyu Allâh Ta’ala.

Keempat, memahami dengan baik manhaj para nabi dalam tazkiyatun-nufûs dapat memberikan gambaran tentang kelurusan aqidah, kesabaran ibadah, kemuliaan akhlak, keindahan mu’amalah, keteguhan prinsip, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, insya Allâh Ta’ala, pembahasan kali ini memuat beberapa pelajaran tarbiyah dan nilai tazkiyatun-nufûs yang dipetik dari kisah perjalanan Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam.

 

BEBERAPA PELAJARAN PENTING DARI PEMAPARAN KISAH NABI IBRAHIM 

Keteguhan Ibrâhîm ‘alaihissalam dalam Mendakwahkan Tauhid kepada Ayahnya.

Unsur terpenting dalam proses penyucian jiwa ialah dengan menegakkan tauhidullah, menjadikannya sebagai pilar utama sehingga mempengaruhi unsur-unsur lain dalam jiwa. Apabila tauhid seseorang baik, maka baik pula unsur lainnya. Demikian sebaliknya, apabila tauhid seseorang buruk, hal itupun akan sangat berpengaruh dalam setiap gerak langkah kehidupannya. Dan kita berharap semoga Allâh Ta’ala selalu memberikan taufik dan petunjuk-Nya.

Dalam mempelajari perjalanan hidup Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam, kita akan mendapatkan diri beliau sebagai insan yang sangat teguh dan gigih dalam menegakkan hak Allâh Ta’ala yang agung, yakni tauhid. Hal ini dapat terlihat dalam beberapa momen, di antaranya:

A. Dakwah tauhid kepada ayah beliau dengan sabar dan penuh santun.

Al-Hâfihz Ibnu Katsir rahimahullâh berkata,”Penduduk negeri Harran adalah kaum musyrikin penyembah bintang dan berhala. Seluruh penduduk bumi adalah orang-orang kafir kecuali Ibrâhîm ‘alaihissalam, isterinya, dan kemenakannya, yaitu Nabi Luth ‘alaihissalam. Ibrâhîm ‘alaihissalam terpilih menjadi hamba Allâh Ta’ala yang menghapus kesyirikan tersebut dan menghilangkan kebatilan-kebatilan yang sesat. Allâh Ta’ala telah menganugerahkan kepadanya kegigihan sejak masa kecilnya. Beliau diangkat menjadi Rasul, dan dipilih sebagai kekasih Allâh Ta’ala pada masa berikutnya.[2]

Awal dakwah tauhid yang beliau ‘alaihissalam tegakkan, ialah diarahkan kepada ayahnya, karena ia seorang penyembah berhala dan yang paling berhak untuk diberi nasihat”.[3]

Syaikh as-Sa’di rahimahullâh berkata,

“Ibrâhîm ‘alaihissalam adalah sebaik-baik para nabi setelah Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, yang telah Allâh Ta’ala jadikan kenabian pada anak keturunannya. Dan kepada mereka diturunkan kitab-kitab suci. Dia telah mengajak manusia menuju Allâh Ta’ala, bersabar terhadap siksa yang ia dapatkan (dalam perjalanan dakwahnya), ia mengajak orang-orang yang dekat (dengannya) dan orang-orang yang jauh, ia bersungguh-sungguh dalam berdakwah terhadap ayahnya bagaimanapun caranya”.[4]

Allâh Ta’ala berfirman:

Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya;
“Wahai Ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu
yang tidak mendengar, tidak melihat
dan tidak dapat menolong engkau sedikit pun?”
(Qs. Maryam/19:42)

Lihatlah, bagaimana Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam mendakwahkan tauhid kepada ayahnya dengan ungkapan sangat lembut dan ucapan yang baik untuk menjelaskan kebatilan dalam perbuatan syirik yang dilakukannya?![5]

Penolakan ayahnya terhadap dakwah itu tidak menyurutkan semangat serta sikap sayang terhadap ayahnya dengan tetap akan memintakan ampunan, sekalipun permohonan ampun itu kemudian dilarang oleh Allâh Ta’ala.

Disebutkan dalam firman-Nya:

Dan permintaan ampun dari Ibrâhîm (kepada Allah) untuk ayahnya
tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkan kepada ayahnya itu.
Maka tatkala jelas bagi Ibrâhîm bahwa ayahnya adalah musuh Allâh Ta’ala,
maka Ibrâhîm berlepas diri darinya.
Sesungguhnya Ibrâhîm adalah seorang
yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.
(Qs. at-Taubah/9 : 114)

Dalam usaha yang lain, Ibrâhîm ‘alaihissalam berdialog dengan ayahnya:

Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar:6 “Layakkah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kekeliruan yang nyata”.
(Qs. al-An’âm/6 ayat 74)

Syaikh as-Sa’di rahimahullâh berkata,

“Dan ingatlah (terhadap) kisah Ibrâhîm ‘alaihissalam manakala Allâh Ta’ala memuji dan memuliakannya saat ia berdakwah mengajak kepada tauhid dan melarang dari berbuat syirik.”[7]

Demikian, perjuangan dakwah tauhid yang disampaikan Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam kepada kaumnya. Allâh Ta’ala menjadikannya sebagai bagian dari ayat-ayat Al-Qur’ân yang akan selalu dibaca dan dipelajari secara seksama.

Allâh Ta’ala berfirman, yang artinya:

Dan (ingatlah) Ibrâhîm, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya, yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.”
(Qs. al-Ankabût/29 ayat 16)

Ibnu Katsir rahimahullâh berkata dalam menafsirkan ayat ini:

“Allâh Ta’ala mengkabarkan tentang hamba-Nya, Rasul dan kekasih-Nya, yaitu Ibrâhîm ‘alaihissalam sang imam para hunafâ`, bahwa beliau ‘alaihissalam berdakwah mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allâh Ta’ala semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, mengikhlaskan-Nya dalam ketakwaan, memohon rizki hanya kepada-Nya, dan mengesakan-Nya dalam bersyukur”.[8]

Keteguhan dakwah tauhid yang diperjuangkan Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam juga termaktub dalam firman Allâh Ta’ala surat al-Anbiyâ’/21 ayat 51-56. Dan dalam beberapa ayat disebutkan, bahwa dakwah tauhid kepada ayah dan kaumnya dilakukan secara bersamaan, seperti tersebut dalam surat asy-Syu’arâ/26 ayat 69, ash-Shâffât/37 ayat 84.

 

B. Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam tegar dan tabah menghadapi ujian dan siksaan

Sikap ini tercermin dalam kisah beliau ‘alaihissalam saat berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid dan mengesakan Allâh Ta’ala, namun kebanyakan mereka menolaknya dengan penuh kenistaan. Ketabahan Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam ini menjadi teladan bagi setiap dai dalam mengajak manusia menuju jalan yang diridhai Allâh Ta’ala.

Kisah ketabahan Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam diabadikan dalam Al-Qur’ân melalui firman-firman-Nya. Meskipun kaumnya bertekad untuk membakar dirinya, namun Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam tetap tabah dan menyerahkan segala perkara kepada Allâh Ta’ala (Lihat ayat-ayat dalam surat ash-Shâffât/37 ayat 95-98, al-Ankabût/29 ayat 22-25, al-Anbiyâ’/ 21 ayat 68-69).

Ath-Thabari rahimahullâh membawakan riwayat yang sanadnya sampai kepada as-Suddi rahimahullâh, ia berkata:

“Mereka menahannya dalam sebuah rumah. Mereka mengumpulkan kayu bakar, bahkan hingga seorang wanita yang sedang sakit bernadzar dengan mengatakan ‘sungguh jika Allâh telah memberikan bagiku kesembuhan, maka aku akan mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Ibrâhîm’. Setelah kayu bakar terkumpul menjulang tinggi, mereka mulai membakar setiap ujung tepian dari tumpukkan itu, sehingga apabila ada seekor burung yang terbang di atasnya niscaya ia akan hangus terbakar. Mereka mendatangi Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam kemudian mengusungnya sampai di puncak tumpukan tinggi kayu bakar tersebut”.

Riwayat lain menyebutkan, beliau diletakkan dalam ujung manjanîq.[9]

Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam mengangkat kepalanya menghadap langit, maka langit, bumi, gunung-gunung dan para malaikat berkata:

“Wahai, Rabb! Sesungguhnya Ibrâhîm ‘alaihissalam akan dibakar karena (memperjuangkan hak-Mu)”.

Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam berkata,

“Ya, Allah, Engkau Maha Esa di atas langit, dan aku sendiri di bumi ini. Tiada seorang pun yang menyembah-Mu di atas muka bumi ini selainku. Cukuplah bagiku Engkau sebaik-baik Penolong”.[10]

Mereka lantas melemparkan Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam ke dalam tumpukan kayu bakar yang tinggi, kemudian diserukanlah (oleh Allâh Ta’ala ):

“Wahai api, jadilah dingin dan selamat bagi Ibrâhîm”.[11]

Kemudian ath-Thabari rahimahullâh dan Ibnu Katsir rahimahullâh dalam tafsir mereka membawakan riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu’anhu dan Abu al-‘Aliyah radhiyallâhu’anhu, dan keduanya berkata: “Jika Allâh Ta’ala tidak mengatakan ‘dan selamat bagi Ibrâhîm ‘alaihissalam,’ niscaya api itu akan membinasakan Ibrâhîm ‘alaihissalam dengan dinginnya”.[12]

 

C. Yakin terhadap kebesaran Allâh Ta’ala

Pada saat Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam diletakkan di ujung manjanîq, ia dalam keadaan terbelenggu dengan tangan di belakang. Kemudian kaumnya melemparkan Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam ke dalam api, dan ia pun berkata:

“Cukuplah Allâh Ta’ala bagi kami, dan Dia sebaik-baik Penolong”.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullâh dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu’anhu, ia berkata:

“(cukuplah Allâh Ta’ala bagi kami dan Dia sebaik-baik penolong) telah diucapkan Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam tatkala ia dilemparkan ke dalam api.”[13]

Demikianlah, Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam sangat yakin dengan kebesaran, pertolongan dan perlindungan Allâh Ta’ala, karena beliau sedang memperjuangkan hak Allâh Ta’ala yang terbesar, yakni tauhid dalam beribadah kepada-Nya.

 

Perintah Allâh Ta’ala Berada di Atas Segalanya

A. Kisah dalam hijrah bersama Hajar dan Ismail[14]

Ketika Ismail baru saja dilahirkan dan dalam penyusuan ibunya (Hajar), Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam membawa keduanya menuju Baitullah pada dauhah (sebuah pohon rindang)[15] di atas zam-zam. Saat itu, tidak ada seorangpun di Makkah, dan juga tidak ada sumber air. Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam meninggalkan jirâb, yaitu kantung yang biasa dipakai untuk menyimpan makanan.[16] Kantung itu berisi kurma untuk keduanya. Juga meninggalkan siqâ’ (wadah air)[17] yang berisi air minum.

Kemudian Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam berpaling dan pergi. Hajar mengikutinya sembari berkata:

“Wahai, Ibrâhîm! Kemana engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah yang sunyi dan tak berpenghuni ini?”

Hajar mengulangi pertanyaan itu berkali-kali, namun Ibrâhîm ‘alaihissalam tidak menoleh, tak pula menghiraukannya. Kemudian Hajar pun bertanya:

“Apakah Allâh Ta’ala yang telah memerintahkan engkau dengan ini?”

Ibrâhîm ‘alaihissalam menjawab,

“Ya.”

Mendengar jawaban itu, maka Hajar berkata:

“Jika demikian, Allâh Ta’ala tidak akan meninggalkan kami”.

Lantas Hajar kembali menuju tempatnya semula. Adapun Ibrâhîm ‘alaihissalam, ia terus berjalan meninggalkan mereka, sehingga sampai di sebuah tempat yang ia tak dapat lagi melihat isteri dan anaknya.

Ibrâhîm ‘alaihissalam pun menghadapkan wajah ke arah Baitullah seraya menengadahkan tangan dan berdoa:

“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
(Qs. Ibrâhîm /14 ayat 37)

 

B. Kisah Penyembelihan Ismail

Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam berdoa:

“Wahai Rabb-ku, karuniakanlah untukku anak yang shalih”

Maka Allâh Ta’ala memberikan kabar gembira kepadanya dengan kehadiran seorang anak yang mulia lagi penyabar. Dan tatkala anak itu saat mulai beranjak dewasa berusaha bersama-sama Ibrâhîm, Ibrâhîm berkata kepadanya:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”

Isma’il ‘alaihissalam menjawab:

“Wahai Ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allâh Ta’ala kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang-orang yang sabar”.

Saat keduanya telah berserah diri dan Ibrâhîm membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya), Allâh Ta’ala memanggilnya:

“Wahai Ibrâhîm, sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrâhîm (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Yaitu) ‘Kesejahteraan yang dilimpahkan kepada Ibrâhîm’. Demikianlah Allâh Ta’ala memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba Allâh Ta’ala yang mukminin.” (Qs. ash-Shâffât/37 ayat 99-111)

Di dalam tafsir Qurthubi rahimahullâh[18] dan Baghawi rahimahullâh[19] disebutkan riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu’anhu, beliau berkata:

“Ibrâhîm ‘alaihissalam dan Isma’il ‘alaihissalam keduanya taat, tunduk patuh terhadap perintah Allâh Ta’ala. Ingatlah, renungkanlah kisah itu … ketika keduanya akan melaksanakan perintah Allâh Ta’ala, dengan tulus dan tabah sang anak berkata:

“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”

“Wahai Ayahku, singsingkanlah bajumu agar darahku tidak mengotori bajumu maka akan berkurang pahalaku, dan (jika nanti) Bunda melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”

“Dan tajamkanlah pisau Ayah, serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”

“Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali maka sampaikan salam (kasih)ku kepada Bunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka lakukanlah.”

(Saat itu, dengan penuh haru) Ibrahim berkata:

“Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allâh Ta’ala.”

Ibnu Katsir rahimahullâh berkata:[20]

“Ini adalah ujian Allâh Ta’ala atas kekasih-Nya (yakni Ibrâhîm ‘alaihissalam) untuk menyembelih putranya yang mulia dan baru terlahir setelah beliau berumur senja. (Ujian ini terjadi) setelah Allâh Ta’ala memerintahkannya untuk meninggalkan Hajar saat Ismail radhiyallâhu’anhu masih menyusui di tempat yang gersang, sunyi tanpa tumbuhan (yang dimakan buahnya), tanpa air dan tanpa penghuni. Ia taati perintah Allâh Ta’ala itu, meninggalkan isteri dan putranya yang masih kecil dengan keyakinan yang tinggi dan tawakal kepada Allâh Ta’ala . Maka Allâh Ta’ala memberikan kepada mereka kemudahan, jalan keluar, serta limpahan rizki dari arah yang tiada disangka. Setelah semua ujian itu terlampaui, Allah menguji lagi dengan perintah-Nya untuk menyembelih putranya sendiri, yaitu Ismail radhiyallâhu’anhu. Dan tanpa ragu, Ibrâhîm ‘alaihissalammenyambut perintah Allâh Ta’ala itu dan segera mentaatinya. Beliau ‘alaihissalam menyampaikan terlebih dahulu ujian Allâh Ta’ala tersebut kepada putranya, agar hati Ismail ‘alaihissalam menjadi lapang serta dapat menerimanya, sehingga ujian itu tidak harus dijalankan dengan cara paksa dan menyakitkan. Subhanallâh…”

 

C. Perintah Allâh Ta’ala kepada Ibrâhîm ‘alaihissalam untuk Berkhitan

Pada saat Ibrâhîm ‘alaihissalam telah mencapai umur senja (delapan puluh tahun), ia diuji oleh Allâh Ta’ala dengan beberapa perintah, di antaranya agar beliau berkhitan. Sebagaimana hadits Abi Hurairah radhiyallâhu’anhu, ia berkata: Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Ibrâhîm ‘alaihissalam berkhitan di usia beliau delapan puluh tahun.” [21]

Beliau ‘alaihissalam berkhitan dengan pisau besar (semisal kampak). Meskipun terasa sangat berat bagi diri beliau ‘alaihissalam, namun hal itu tidak pernah membuatnya merasa ragu terhadap segala kebaikan perintah Allâh Ta’ala. Bahkan dalam sebuah riwayat, Ali bin Rabah radhiyallâhu’anhu menyebutkan bahwa :

“Beliau (Ibrâhîm ‘alaihissalam) diperintah untuk berkhitan, kemudian beliau melakukannya dengan qadum. Maka Allâh Ta’ala mewahyukan:

“Engkau terburu-buru sebelum Kami tentukan alatnya”.

Beliau mengatakan:

“Wahai Rabb, sungguh aku tidak suka jika harus menunda perintah-Mu.”[22]

 

D. Perintah Allâh Ta’ala Untuk Membangun Ka’bah

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrâhîm di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orangorang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”
(Qs. al-Hajj/22 : 26-27)

Dalam Shahih Bukhâri[23] disebutkan, bahwasanya Ibrâhîm ‘alaihissalam berkata:

“Wahai anakku, sesungguhnya Allâh memerintahkan aku sesuatu”.

Ismail ‘alaihissalam menjawab:

“Lakukanlah perintah Allâh Ta’ala kepadamu”.

Ibrâhîm ‘alaihissalam bertanya:

“Apakah engkau (akan) membantuku?”

Ismail ‘alaihissalam menjawab:

“Ya, aku akan membantumu”.

Ibrâhîm ‘alaihissalam berkata lagi:

“Sesungguhnya Allâh Ta’ala telah memerintahkan aku untuk membangun disini sebuah rumah”.

(Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam mengisyaratkan tanah yang sedikit tinggi dibandingkan dengan yang ada di sekelilingnya).

Saat itulah keduanya meninggikan pondasi-pondasi. Dan Ismail ‘alaihissalam membawa kepada ayahnya batu-batu dan Ibrâhîm ‘alaihissalam menyusunnya. Sehingga, ketika telah mulai tinggi, ia mengambil batu dan diletakkan agar Ibrâhîm ‘alaihissalam dapat naik di atasnya.

Demikian, dilakukan oleh keduanya, dan mereka berkata:

“Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Qs. al-Baqarah/2:127)

 

PELAJARAN DARI KISAH NABI IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM

Dari pemaparan kisah-kisah di atas, banyak pelajaran penting dan berharga yang dapat dipetik, di antaranya:

Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam adalah hamba Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya yang amat taat kepada-Nya, sehingga Allâh Ta’ala menjadikannya sebagai hamba yang sangat disayangi.

Pilar utama upaya tazkiyyatun-nufûs adalah dalam hal tauhid. Dan berdakwah menyeru kepada tauhid merupakan amanat yang dipikul para nabi, dan sekaligus menjadi panutan bagi setiap dai.

Kesabaran dalam mendakwahkan tauhid dan ketabahan dalam menghadapi ujian di jalan itu, harus dilakukan sesuai dengan cara yang dicontohkan oleh para Rasul.

Yakin terhadap Allâh Ta’ala merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam mengarungi kehidupan.

Perintah Allâh Ta’ala merupakan hal terpenting di atas segalanya. Ketulusan hati dalam melaksanakan segala perintah Allâh Ta’ala adalah kebahagiaan. Maka selayaknya kita berupaya secara maksimal untuk melaksanakannya diiringi doa memohon taufik serta kemudahan dari Allâh Ta’ala .

Segala contoh kebaikan telah ada pada diri para Rasul yang harus selalu menjadi suri tauladan bagi kita dalam setiap hal.

Wallahul Musta’ân.

Marâji’:

Al-Bidayah wan-Nihayah, Ismail bin ‘Umar bin Katsîr. Tahqîq: Dr. ‘Abdullah ‘Abdul-Muhsin at-Turki, 1417 H.

Al-Jâmi’u li Ahkâmil-Qur’ân, Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Cetakan Mu’assatur-Risâlah, 1427 H.

Al-Mu’jamul-Wasîth, Makatabtusy-Syurûq, Cetakan 2.

Fathul Qadîr, Muhammad bin Ali asy-Saukani, Dârul-Fikr, 1414 H.

Jami’ul-Bayân fi Ta’wîlil-Qur’ân, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Cetakan Dârul-Kutubil-‘Ilmiyah, 1426 H.

Ma’alimut-Tanzîl, Abu Muhammad bin Mas’ûd al- Baghawi, Cetakan Dârul-Ma’rifah, 1413 H.

Musnadul-Imâmi Ahmad, Ahmad bin Hanbal, Cetakan Mu’assatur-Risâlah, 1420 H.

Shahîh Bukhâri dengan Fat-hul-Bâri, Ibnu Hajar al ‘Asqalâni, Cetakan Dârus-Salâm, 1421 H.

Shahîh Qashashil-Anbiyâ’, Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali, Cetakan Gharras.

Tafsîrul-Qur’ânil-Azhîm, Isma’il bin ‘Umar bin Katsîr, Cetakan Mu’assatur-Rayyân.

Taisîrul-Karîmil-Mannân fî Tafsîrîl-Karîmir-Rahmân, Syaikh ‘Abdurrahmân as-Sa`di, Cetakan Mu’assatur-Risâlah, 1417 H.

[1]

Disadur dari kitab Manhajul-Anbiyâ‘ fii Tazkiyatin-Nufûs, karya Syaikh Salim al-Hilali hafizhahullah, hlm. 8-9

[2]

Lihat Qs. al-Anbiyâ‘/21 ayat 51, yang artinya:

“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrâhîm hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun) dan kami mengetahui (keadaan)nya.”

Juga firman Allâh Ta’ala dalam surat an-Nisâ‘/4 ayat 125, yang artinya:

“Dan Allah menjadikan Ibrâhîm sebagai kesayangan-Nya.”

[3]

Al-Bidâyah wan-Nihâyah, juz 1, hlm. 326.

[4]

Tafsir as-Sa‘di, hlm. 443.

[5]

Tafsir as-Sa‘di, hlm. 444.

[6]

Para ulama berbeda pendapat tentang nama ayah Nabi Ibrâhîm ‘Alaihissalam. Namun yang benar –Insya Allâh- bahwa namanya adalah yang tertera dalam ayat ini. Lihat Tafsir ath-Thabari tentang ayat ini (5/240). Lihat juga Shahîh Qashashil-Anbiyâ‘, Syaikh Salim al-Hilali, hlm. 106.

[7]

Tafsir as-Sa‘di, hlm. 224.

[8]

Tafsir Ibnu Katsîr, Juz 3, hlm. 536.

[9]

Manjanîq, ialah alat pelempar batu besar jarak jauh. Lihat al-Mu‘jamul-Wasîth, hlm. 131 dan 140.

[10]

Ibnu Hajar rahimahullâh menyebutkan riwayat ini dalam Fathul-Bâri, Juz 6, hlm. 483.

[11]

Tafsir ath-Thabari, Juz 9, hlm. 43.

[12]

Tafsir ath-Thabari, Juz 9, hlm. 43, dan Tafsir Ibnu Katsîr, Juz 3, hlm. 246.

[13]

Shahîh Bukhâri dan Fathul-Bâri, Juz 8, hlm. 288, no. 4563.

[14]

Shahîh Bukhâri dan Fathul-Bâri, Juz 6, hlm. 478, no. 3364.

[15]

Lihat al-Mu‘jamul-Wasîth, hlm. 302.

[16]

Lihat al-Mu‘jamul-Wasîth, hlm. 114.

[17]

Lihat al-Mu‘jamul-Wasîth, hlm. 436.

[18]

Tafsir al-Qurthubi, Juz 18, hlm. 69.

[19]

Tafsir al-Baghawi, Juz 4, hlm. 33.

[20]

Shahîh Qashashil-Anbiyâ‘, hlm. 132.

[21]

Shahîh Bukhâri dan Fathul-Bâri (Juz 6, hlm. 468, no. 3356), Musnad Ahmad (Juz 14, hlm. 34-35).

[22]

Shahîh Bukhâri dan Fathul-Bâri, Juz 6, hlm. 472.

(Majalah As-Sunnah Edisi 08 Tahun XII)

Iklan
Ditandai:
Posted in: Tazkiyatun Nufus