Ketentuan Dasar Dakwah Salafiyah

Posted on 14 Desember 2011 oleh


Oleh: Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr

 

Setelah menyampaikan pujian kepada Allâh Ta’ala, bershalawat atas Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dan khutbatul-hajah, kemudian Fadhilatusy-Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr menyampaikan muhadharahnya.

Wahai saudara-saudaraku yang hadir dari dalam dan luar negeri demi menyambut kedatangan ikhwan kalian dari negeri yang jauh. Segala puji bagi Allâh Ta’ala yang telah mengumpulkan kita semua diatas ketaatan kepada Allâh Ta’ala dan manhaj salaf yang benar.

Wahai ikhwah ……
Sesungguhnya dakwah salafiyah telah mengakar kokoh dalam sejarah. Dia bukanlah dakwah yang baru lahir kemarin. Akan tetapi telah ada sejak zaman Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, bahkan sejak zaman para nabi sebelumnya. Oleh karena itu, ushul dan kaidah dakwah salafiyah tidak diambil dari akal dan ijtihad serta istihsan (anggapan baik) manusia, akan tetapi diambil dari sumbernya yang suci yaitu al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful umat ini.

Diantara ma’alim ushul (ketentuan dasar) dakwah salafiyah yang terpenting adalah:

1. Dakwah salafiyah menyeru kepada asal dan rukun yang paling mendasar, yaitu kepada Tauhid dan memperingatkan dari kesyirikan, karena dakwah salafiyah merupakan lanjutan dari dakwah para nabi.

Semua dakwah yang tidak dibangun diatas azas dan rukun ini akan gagal. Ibarat membangun atap sebelum tiangnya, sehingga atapnya akan menimpa kepala penghuninya.

Umat Islam telah menuai bencana dan malapetaka dari dakwah yang tidak bersandar kepada asal dan tidak mengikuti manhaj dakwah para nabi; yaitu memulai dakwah (seruan) kepada tauhid dan pengesaan Allâh Ta’ala dalam ibadah. Seluruh nabi datang untuk menyampaikan kepada kaum mereka satu perkataan yaitu :

“Hai kaumku, sembahlah Allâh,
sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selain-Nya.”
(QS. Al-A’râf/7: 65)

Oleh karena itu dakwah salafiyah mencintai orang karena tauhid, dan membenci orang yang menyelisihi tauhid.

2. Dakwah salafiyah menyeru kepada ittiba (mengikuti) Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam saja secara lahir dan batin.

Karena Allâh Ta’ala telah menggantungkan kesuksesan dan keselamatan pada ittiba’ Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.

Allâh Ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul
sesudah jelas kebenaran baginya,
dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min,
Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu
dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam.
Dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.”
(QS. An-Nisa’/4: 115)

“Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.”
(QS. An-Nûr/24:54)

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya
takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih.”
(QS. An-Nûr/24: 63)

Maksudnya ditimpa fitnah dengan kesesatan dan kesyirikan. Semoga Allâh Ta’ala melindungi kita darinya. Bahkan Allâh Ta’ala menyatakan bahwa syarat untuk mencintai dan supaya dicintai Allâh Ta’ala adalah ittiba’ (mengikuti) Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.

Allâh Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allâh, ikutilah aku,
niscaya Allâh akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’.
Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Ali Imran/3 : 31)

Barang siapa yang ingin dimasukkan ke dalam golongan orang yang Allâh Ta’ala cintai, maka dia harus mengikuti jalan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dan merasa cukup dengan atsar (hadits) Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Oleh karena itu, syiar dakwah salafiyah adalah :

“Firman Allâh Ta’ala,
sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam yang shahih
serta manhaj dan pemahaman salaful umat”.

Termasuk ketentuan dasar dakwah salafiyah adalah -berbeda dengan kelompok jamaah lainnya baik yang kuno atau yang modern- bersandar kepada pemahaman salaf secara ilmu dan amal. Maka salafi (orang yang mengikuti salaf) tidak akan mengatakan:

“Kami adalah suatu generasi yang setara dengan mereka”.

Akan tetapi salafi akan mengatakan:

“Kami adalah suatu generasi yang mengikuti mereka, yang telah dipuji Allâh Ta’ala dalam firmanNya:

‘Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan
dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allâh.’
(QS. An-Nûr/24: 37)

Dan firman Allâh Ta’ala:

‘Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri.
Dan Allâh menyukai orang-orang yang bersih.’
(QS. At-Taubah/9:108)

Kami mengikuti mereka, karena mereka telah mendapat ridha dari Allâh Ta’ala -Allâh Ta’ala meridhai mereka dan mereka meridhai Allâh Ta’ala-.”

3. Dakwah salafiyah melakukan tasfiyah (pemurnian) terhadap Islam dari semua kebid’ahan, khurafat, kerancuan, pemikiran sesat dan falsafah yang tidak diterangkan Allâh Ta’ala.

Dakwah salafiyah melakukan tazkiyah (pensucian) terhadap jiwa kaum muslimin agar mereka beruntung.

Allâh Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams/91: 9-10)

Dakwah salafiyah mengambil ilmu yang murni, dari sumber yang murni dan menyampaikannya (ilmu) dalam keadaan murni. Karena jika ilmu tercampuri hadits-hadits dhaif (lemah) dan palsu, aqidah yang menyimpang lagi bathil, falsafah, kerancuan dan sampah pemikiran manusia, maka ilmu itu akan menjadi racun yang mematikan aqidah, pemikiran dan manhaj mereka. Akan memutuskan jalan mereka mencapai ridha Allâh Ta’ala.

Tasfiyah (pemurnian) dan tazkiyah (penyucian jiwa) merupakan keistimewaan dan sendi-sendi dakwah ini. Madrasah al-Imam Mujadid zaman ini al-Albany rahimahullâh telah melaksanakan peran yang cukup baik. Sebagai lanjutan dari madrasah salafiyah pertama sejak zaman Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya hingga zaman ini dan sampai hari kiamat nanti.

4. Dakwah salafiyah memperhatikan ilmu dan ulama, karena asas perbaikan agama hanya bisa tegak dengan ilmu.

Lima ayat pertama yang diturunkan kepada Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam mengajak Beliau berilmu dan memerintahkan Beliau membaca.

Allâh Ta’ala berfirman:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah.
Bacalah, dan Rabb-mu lah Yang Paling Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq/96 : 1-5)

Qalam (alat tulis) merupakan asas dalam memperoleh ilmu. Allâh Ta’ala pergunakannya ia untuk bersumpah karena kemuliannya dan kemuliaan ilmu yang bisa dicapai.

Allâh Ta’ala berfirman:

” Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”
(QS. Al-Qalam/68 : 1)

Kemudian Allâh Ta’ala menjadikannya sebagai makhluk pertama karena kemulian dan kemulian ilmu dan pengetahuan. Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang artinya:

“Makhluk pertama yang Allâh ciptakan adalah qalam
kemudian Dia berfirman:
‘Tulislah!’

Qalam menjawab:
‘Apa yang saya tulis?’

Allâh Ta’ala berfirman:
‘Tulislah apa yang terjadi dan akan terjadi.’

Lalu qalam menulis segala sesuatu sampai hari kiamat.”

Dakwah salafiyah memuliakan ulama, tetapi tidak ekstrim terhadap mereka. Karena tahu bahwa mereka adalah manusia biasa yang bisa salah dan benar. Mereka diikuti kebenarannya. Kesalahan mereka sama sekali tidak menurunkan kedudukan dan martabat mereka di dalam dakwah ini.

Dakwah salafiyah juga tidak mencela ulama rabbani yang telah menegakkan kebenaran dan berbuat adil. Ulama dakwah ini adalah mereka yang telah diakui oleh semua orang karena keimanan mereka dalam agama dan kedalaman ilmu mereka serta menjadi penerang petunjuk.

Kami telah melihat, alangkah susahnya orang awam atau orang yang berilmu setelah wafatnya imam kita yang tiga; Ibnu Baaz, al-Albany dan Ibnu Utsaimin rahimakumullâh. Mereka dan yang sekelas dengan mereka serta murid-murid mereka adalah penjaga umat ini dari kekacauan dan kesesatan, karena Ulama adalah pewaris para nabi sepanjang masa.

5. Dakwah salafiyah mengajak kaum muslimin yang mengikuti contoh Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bekerjasama (ta’awun) dalam kebaikan dan taqwa, tidak mengajak para ahli bid’ah dan hizbiy (orang partai).

Hizbiy telah memecah belah umat dan membuat mereka tidak akan berpendapat kecuali dengan pendapat partai, sehingga ke-hizbiyah-an mengakar dalam hati mereka. Mereka mencintai partai atau kelompok sebagaimana Bani Israil mencintai anak sapi, wal iyadzu billah.

Mereka (orang partai) mengobarkan slogan:

“Ini dari kelompok saya dan dia dari kelompok musuh saya”,

lalu bergabung dengan semua hizbiy dan menjauhi semua sunniy (orang yang mengikuti sunnah) walaupun sunniy tersebut orang paling benar dizamannya.

6. Dakwah salafiyah yang penuh barakah ini memperingatkan dan mencela fanatik golongan serta sangat membenci perpecahan.

Juga mencela dan memperingatkan pelakunya, karena Allâh Ta’ala telah mencela orang yang berpecah belah dan fanatik golongan.

Allâh Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang
yang mempersekutukan Allâh,
yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka
dan mereka menjadi beberapa golongan.
Tiap-tiap golongan merasa bangga
dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
(QS. Ar-Rûm/30 : 31-32)

Sebagaimana Dakwah Salafiyah (berkat hidayah Allâh Ta’ala) berada di tengah-tengah antara orang yang ghuluw (ekstrim) dan orang yang taqshir (orang yang meremehkan). Mereka adalah kelompok yang adil dan tengah-tengah.

Semoga Allâh Ta’ala merahmati al-Hasan al-Bashri, ketika berkata:

“Agama kalian yang telah diturunkan kepada Nabi kalian di antara ghuluw yaitu ekstrim dan jaafi (orang yang suka meremehkan urusan).”

Demikianlah Allâh Ta’ala memberikan keistimewaan kepada umat ini berupa keadilan dan kesederhanaan.

Allâh Ta’ala berfirman:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam),
ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi
atas (perbuatan) kamu.”
(QS. Al-Baqarah/2: 143)

Manhaj salaf mengajak kapada sikap netral dan adil dalam setiap sisi kehidupan, dalam aqidah, pemikiran, perkara dunia dan juga urusan akhirat, sesuai dengan manhaj Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dan sahabatnya.

Hal ini telah dijelaskan dan dikuatkan oleh hadits-hadits dan atsar yang banyak sekali. Dan sekarang tidak mungkin saya menjelaskan lebih dari ini.

7. Dakwah salafiyah, berdakwah kepada Allâh Ta’ala berdasarkan ilmu dan keyakinan.

Dan berdakwah secara jelas dengan hujjah serta membenci kesamaran dan ketidakjelasan, slogan mereka adalah sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :

“Saya bawakan kepada kalian agama yang terang benderang;
malamnya seperti siangnya.”

Oleh karena itu Beliau meninggalkan umat ini di atas agama yang terang benderang dan jalan yang lurus.

Bukan mereka yang bergerak sembunyi-sembunyi dan takut bergerak pada siang hari, menebar syubhat dan keraguan ke dalam jiwa kaum muslimin. Sehingga kaum muslimin mesti waspada terhadap mereka.

Kita tidak pernah mengetahui Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bergerak di kegelapan, akan tetapi beliau bergerak di terangnya siang hari. Maka Dakwah salafiyah terang benderang, malamnya seperti siangnya dan tidaklah tergelincir darinya kecuali orang yang binasa.

8. Dakwah salafiyah beramar makruf dan mencegah kemungkaran serta menegakkan kebenaran.

Tidak takut celaan orang yang mencela sambil tetap memperhatikan ketentuan hikmah, nasehat yang baik dan kelemah-lembutan. Karena jika kelembutan masuk pada sesuatu, akan menghiasinya dan bila hilang dari sesuatu maka akan merusaknya, serta memperhatikan mashlahat dan mafsadat, karena melihat maslahat dan mafsadat termasuk dalam fiqih dakwah.

Tidak mendapat taufiq dalam hal ini kecuali orang yang dikehendaki baik oleh Allâh Ta’ala. Ini kaidah baku, kaidah ushul yang telah ditetapkan para ulama, yaitu menghindari mafsadat (kerusakan) lebih di dahulukan dari mengambil maslahat (kebaikan).

Oleh karena itu Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada Aisyah:

“Wahai Aisyah,
seandainya bukan karena kaummu
yang baru saja meninggalkan kejahiliyahan,
sungguh saya akan hancurkan ka’bah
dan saya jadikan sesuai dengan pondasi dasar Ibrahim.”

Beliau tidak melakukannya karena takut mafsadat (kerusakan).

Seorang alim, pelajar dan da’i yang bermanhaj salaf seharusnya melihat segala sesuatu dengan cahaya Allâh Ta’ala dan bashirah sehingga dapat mengenal dan membedakan mana maslahat dan mafsadat.

9. Dakwah salafiyah adalah orang yang paling mengenal kebenaran dan paling sayang kepada makhluk.

Dia tidak tertipu dengan banyaknya orang dan tidak merasa kecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikutinya, tidak tertipu dengan banyaknya orang yang celaka. Lihatlah disana ada seorang nabi yang bersamanya seorang, sekelompok dan ada nabi yang tidak memiliki pengikut seorangpun. Ini membuat mereka tidak mundur dan terhalang dari kebenaran dan dakwah yang benar.

Pada setiap masa pengikut dakwah yang benar itu sedikit, dalam hadits dijelaskan:

“Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran,
tidak merugikan mereka orang yang mernyelisihinya atau menghinanya
sampai datang hati kiamat.”

Lihatlah wahai kaum muslimin, wahai hamba Allâh Ta’ala kepada kebenaran yang dibawa dakwah ini dan janganlah melihat kepada banyaknya orang.

Allâh Ta’ala berfirman:

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.”
(QS. Saba’/34: 13)

Sebagai penutup, dakwah salafiyah beramal dengan dalil dan mengedepankan dalil atas semua pendapat orang. Menghukumi perkataan orang kepada dalil, manhaj, aqidah dan ketentuan dasar dakwah salafiyah dan tidak menghukumi ketentuan dasar dakwah salafiyah kepada pendapat orang.

Seandainya kebenaran diukur dengan pendapat orang, maka sungguh mengusap bagian bawah khuf (sepatu) lebih utama dari atasnya padahal yang benar berdasarkan dalil adalah mengusap bagian atas sepatu.

Saya sampaikan perkataan saya ini dan saya memohon kepada Allâh Ta’ala supaya kita semua diberikan kemantapan di atas manhaj salaf dan aqidah salaf sampai mati dan semoga Allâh Ta’ala menjadikan kita semua orang yang pantas bernisbat kepadanya. Sesungguhnya Allâh Ta’ala yang menguasainya dan mampu untuk menunaikannya.

Diterjemahkan oleh Ustadz Kholid bin Syamhudi dengan sedikit perubahan, dari rekaman ceramah Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr pada pembukaan Daurah Syar’iyah fi Masaail Aqadiyah wal Manhajiyah, di Surabaya tanggal 3 Muharram 1423H atau 17 Maret 2002 M.

(Majalah as-sunnah)

Posted in: Aqidah, Artikel