Adakah qadha’ puasa dan shalat bagi orang yang sudah meninggal ?

Posted on 4 Januari 2012 oleh


Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya :

:Apabila ada orang meninggal dunia sedangkan dia masih memiliki tanggungan puasa dan shalat, siapakah orang yang meng-qadha’ puasa dan shalat dia ?

Syaikh menjawab : Jika ada orang yang meninggal dunia, sedangkan dia masih memiliki tanggungan puasa maka walinya berpuasa untuknya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

” Barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan dia masih memiliki tanggungan puasa, maka wali-nya berpuasa untuknya.”

Ulama’ berkata bahwa maksud wali disini adalah orang yang mendapatkan warisan darinya. Misalnya, jika ada seseorang yang  berbuka pada puasa Ramadhan karena sedang safar atau sakit, lalu Allah menyembuhkan penyakitnya, namun dia meninggal dunia dan belum sempat meng-qadha’ puasa yang dia tinggalkan, maka wali-nya berpuasa untuknya. Yang meng-qadha’ puasanya bisa anak laki-lakinya, bapaknya, ibunya, atau anak perempuannya. Yang penting statusnya sebagai ahli waris dia (orang yang meninggal dunia). Namun demikian, tidak mengapa  jika ada orang di luar ahli waris yang berpuasa baginya. Kemudian jika tidak didapati seorangpun yang mengganti puasa dia, maka (ahli waris) dia hendaknya memberi makan setiap harinya satu orang miskin sebanyak puasa yang dia tinggalkan.

Sedangkan untuk masalah shalat, jika ada orang yang meninggal dunia dan masih punya tanggungan shalat, maka tidak perlu meng-qadha’ shalat dia. Karena perbuatan yang demikian ini tidak pernah dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak benar mengqiyaskan antara shalat dengan puasa karena Allah telah membedakan keduanya dalam banyak permasalahan. Maka tatkala ada perbedaan diantara keduanya dalam banyak permasalahan sehingga tidak mungkin mengqiyaskan salah satu dari keduanya kepada yang lainnya.

Akan tetapi jika ada orang yang meninggal dunia, dan dia masih memiliki tanggungan shalat yang belum dia qadha’ selama dia masih hidup maka dia dido’akan supaya mendapatkan ampunan, rahmat dan maaf dari Allah atas kekurangan dan kelalaian dia.

Wallahul muwaffiq

(Majmuu’  Fataawa wa Rasaail Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, jilid 19, hal.395-396)

Posted in: Fatwa