Air Musta’mal dan Hukumnya

Posted on 7 Januari 2012 oleh


Oleh: Abu Muawiyyah

Definisi Air Musta’mal

Apa itu air musta’mal (اَلْمُسْتَعْمَلُ)?
Air musta’mal secara bahasa maknanya: Air yang sudah digunakan. Sementara menurut istilah, air musta’mal di kalangan ulama diperuntukkan untuk dua keadaan:

1. Air yang menetes dari tubuh ketika seseorang berwudhu atau mandi junub(1).

2. Air yang telah telah digunakan untuk bersuci (mandi atau wudhu), sementara airnya sedikit(2).

Karenanya, jika seseorang berwudhu atau mandi, lalu air dari kulitnya masuk lagi ke dalam bejananya maka air dalam bejana itu sudah dihukumi musta’mal. Atau seseorang berwudhu melalui kran dan di bawahnya ditadah dengan bejana, maka air dalam bejana itu adalah musta’mal. Atau seseorang berwudhu atau mandi dari bejana, dengan cara dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana ketika dia menciduk air, maka air dalam bejana itu juga sudah musta’mal.

Hukum Air Musta’mal

Pendapat yang paling benar dalam hukumnya adalah bahwa air musta’mal itu suci dan menyucikan atau bisa dipakai bersuci. Adapun dalil bahwa air musta’mal adalah suci:

Dari Al-Miswar bin Makhramah radhiallahu anhu dia berkata:
وَإِذَا تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ
“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu, hampir-hampir saja mereka berkelahi memperebutkan air bekas wudhu beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 516)

Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ تَخْتَلِفُ أَيْدِينَا فِيهِ
“Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari satu bejana, dan tangan kami saling bersentuhan.” (HR. Al-Bukhari no. 261 dan Muslim no. 484)

Dan hadits-hadits lain yang semakna dengannya. Sisi pendalilannya jelas: Seandainya air musta’mal najis, niscaya para sahabat dan Aisyah radhiallahu anhum tidak akan menggunakannya untuk bersuci.

Adapun dalil bahwa air musta’mal itu bisa dipakai bersuci:

1. Hukum asal setiap air adalah suci dan bisa dipakai bersuci, sampai ada dalil yang mengeluarkannya dari sifat ini. Dan tidak ada satupun dalil shahih lagi tegas yang mengeluarkan air musta’mal dari hukum asal ini. Penjabaran dalil-dalil pendapat lain telah kami paparkan dalam Ezine Islami Al-Atsariyyah.

2. Air itu hanya ada dua: Suci dan najis. Karenanya, setiap air yang suci pasti bisa dipakai bersuci. Adapun jenis air yang suci tapi tidak bisa dipakai bersuci, maka tidak ada dalil shahih lagi tegas yang menunjukkan adanya. Karenanya, kedua hadits di atas yang menunjukkan dalilnya air musta’mal, keduanya sekaligus menunjukkan bahwa air itu bisa dipakai bersuci.

3. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mandi dengan sisa air mandi Maimunah.” (HR. Muslim no. 487)
Inilah pendapat yang paling tepat insya Allah, bahwa air musta’mal itu suci dan bisa dipakai bersuci. Ini adalah sebuah riwayat dari Ahmad. Ini juga adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri, Atha’, Ibrahim An-Nakha’i, Az-Zuhri, Mak-hul, Sufyan Ats-Tsauri, Daud Azh-Zhahiri dan selainnya. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Hazm, Ibnu Taimiah, Ibnu Abdi Al-Hadi, Asy-Syaukani, dan selainnya.
_____________
(1) Penulis Ahkam Ath-Thaharah (hal. 187) menyatakan kalau jenis ini disepakati oleh para ulama bahwa dia musta’mal.
(2) Mereka lantas berbeda pendapat mengenai berapa kadar air yang dikatakan sedikit. Dan dari semua pendapat yang ada, mungkin yang paling tepat adalah pendapat Al-Malikiah yang menyatakan bahwa: Air sedikit itu seukuran bejana untuk wudhu dan mandi. Wallahu A’lam. (Al-Istidzkar: 1/253 dan At-Tamhid: 4/43)

Sumber: al-atsariyyah.com

Posted in: Fikih