Kisah Shuhaib Korbankan Seluruh Harta Demi Hijrah

Posted on 6 Februari 2012 oleh


Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbondong-bondong berhijrah ke Madinah meninggalkan harta, negeri dan keluarga besar mereka. Mereka bersabar dengan semua kesulitan dan rintangan yang ada diperjalanan mereka ke Madinah. Para Muhajirin ini ada yang berkelompok seperti kisah hijrah Umar bin Al-Khathab radhiallahu ‘anhu dengan ‘Ayyasy dan Ummu Salamah  radhiallahu ‘anha bersama anak dan pendampingnya dan ada yang berhijrah seorang diri, seperti kisah hijrah Shuhaib Ar-Ruumi radhiallahu ‘anhu .

Ketika beliau berangkat hijrah, kaum kuffar Quraisy menghalanginya ditengah jalan ingin menghalangi hijrah beliau. Mereka berkata kepada Shuhaib Ar-Ruumi radhiallahu ‘anhu, “Engkau datang kepada kami dalam keadaan miskin. Kemudian hartamu bertambah banyak ketika bersama kami. Sekarang engkau ingin pergi dengan membawa hartamu. Demi Allah, itu tidak akan bisa terjadi!”

Mendengar teguran ini, Shuhaib mengajukan penawaran, “Bagaimana pendapat kalian, jika aku memberikan seluruh hartaku kepada kalian? Apakah kalian akan membiarkan aku pergi?”

Mereka menjawab, “Ya”.

Kisah ini terdengar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shuhaib telah mendapatkan keberuntungan.”[1]

Dalam riwayat lain disebutkan dari Shuhaib radhiallahu ‘anhu , ia berkata kepada orang-orang kafir Quraisy ketika mereka menyusul dirinya, “Maukah kalian aku beri beberapa ons (auqiyah) emas, lalu kalian membiarkan aku pergi?”

Mereka pun setuju. Maka aku katakan kepada mereka, “Galilah di depan pintu (rumah)ku. Di bawahnya terdapat beberapa ons emas,” Lalu aku pergi dan bisa menyusul Rasulullah n di Quba sebelum Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berpindah darinya. Ketika melihatku, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu Yahya, keuntungan perniagaan.” kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ وَاللهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَاد

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS.  Al-Baqarah: 207).[2]

Dalam riwayat lainnya beliau berkata kepada orang Quraisy, “Sesungguhnya aku sudah tua dan aku memiliki harta dan perhiasan yang banyak. Tidak ada mudharat bagi kalian seandainya aku ikut kalian atau ikut musuh kalian. Aku serahkan semua harta dan perhiasanku dan aku beli agamaku dari kalian dengan itu semua.”

Akhirnya orang-orang Quraisy ridha dan membiarkan jalannya menuju Madinah. Maka berangkatlah kembali Shuhaib Ar-Ruumi menuju Madinah, lalu turunlah ayat diatas.

Imam Al-Alusi dalam kitab Ruh Al-Ma’aani 2/97 menjelaskan kisah ini dengan menyatakan, “Shuhaib ketika berangkat berhijrah, dikejar beberapa tokoh Musyrikin, lalu beliau turun dari kendaraannya dan mengeluarkan isi tempat panahnya serta menyiapkan busurnya. Kemudian beliau berkata, “Wahai kaum Quraisy sungguh aku seorang jago memanah. Sungguh demi Allah tidaklah kalian mampu menyentuhku hingga aku habiskan isi tempat anak panahku ini dan aku tebas dengan pedangku selama tidak lepas pedang tersebut ditanganku. Setelah itu barulah kalian bisa berbuat sesuka kalian.”

Lalu mereka menjawab, “Serahkanlah kepada kami isi rumah  dan hartamu di Makkah  dan kami akan membiarkan kamu pergi.”

Kemudian orang-orang musyrik itu membuat perjanjian bila ia menyerahkan kepada mereka maka mereka akan membiarkannya pergi, maka beliaupun menyetujuinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jual beli yang menguntungkan, jual beli yang menguntungkan.”

Lihatlah bagaimana komitmen terhadap islam mengalahkan semua harta yang dimiliki beliau, sehingga beliau serahkan seluruh harta bendanya agar dapat berhijrah ke kota Madinah. Beliau serahkan seluruh harta bendanya bukan karena takut menghadapi orang-orang Quraisy namun karena ingin berhijrah kekota Madinah dengan tanpa masalah dari mereka. Satu perjuangan yang patut dicontoh dan diteladani.

Siapa mau?

Wabillahi taufiq.

Penulis Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.
Artikel http://www.UstadzKholid.com

Footnote
[1] Diriwayatkan oleh Ibni Hisyam secara mu’allaq (as-Sirah, 2/133), dan dibawakan oleh al-Hakim dengan sanad bersambung dalam kitab al-Mustadrak, 3/389. Beliau  berkata: “Shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim, namun beliau t tidak membawakannya.”
Imam adz-Dzahabi tidak berkomentar tentang hadits ini. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, sebagaimana tercantum dalam ta’liq beliau terhadap kitab Fiqhus-Sirah, karya al-Ghazali, hlm. 166. Lihat as-Siratun-Nabawiyah fi Dhau`il Mashadiril-Ashliyyah, hlm. 261.

[2] Riwayat ini panjang, terdapat dalam al-Mustadrak, 3/400, dan dishahihkan oleh al-Hakim. Lihat as-Siratun-Nabawiyah fi Dhau`il Mashadiril-Ashliyyah, hlm. 261.

Posted in: Tokoh