SEBAB – SEBAB PENYELEWENGAN AQIDAH YANG BENAR

Posted on 18 Maret 2012 oleh


Oleh : Syaikh Salih bin Fauzan bin Abd. Fauzan

Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat dan benar.

Tanpa aqidah yang benar seseorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keragu – raguan yang lama – kelamaan mungkin menumpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan sehingga hidupnya terasa sempit lalu ia ingin terbebas dari kesempitan tersebut dengan menyudahi hidup sekalipun dengan bunuh diri, sebagaimana yang terjadi pada banyak orang yang telah kehilangan hidayah aqidah yang benar. Masyarakat yang tidak dipimpin oleh aqidah yang benar maka masyarakat tersebut tidak memiliki prinsip – prinsip hidup bahagia, sekalipun mereka bergelimang materi tetapi terkadang justru sering menyeret mereka pada kehancuran sebagaimana yang kita lihat pada masyarakat jahiliyah. Karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan taujih (pengarahan) dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi arahan yang benar kecuali aqidah yang shohihah (yang benar)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman :

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al – Mukminun : 51)

Dan firman Allah Subhanahuwata’ala :

Dan Sesungguhnya Telah kami berikan kepada Daud kurnia dari kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-

gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan kami Telah melunakkan besi untuknya,

(yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan. (Saba’ : 10 – 11)

Maka kekuatan aqidah tidak boleh dipisahkan dari kekuatan madiyah (materi). Jika hal itu dilakukan dengan menyeleweng kepada aqidah bathil, maka kekuatan materi akan berubah menjadi sarana penghancur dan alat perusak, seperti yang terjadi di negara – negara kafir yang memiliki materi, tetapi tidak memiliki aqidah yang benar (shohihah).

Sebab – sebab penyimpangan dari aqidah shohihah yang harus kita ketahui yaitu :

1. Kebodohan terhadap aqidah shohihah, karena tidak mau (enggan) mempelajari dan mengajarkannya, atau karena kurangnya perhatian terhadapnya. Sehingga tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal aqidah shohihah dan juga tidak mengetahui lawan atau kebalikannya. Akibatnya, mereka meyakini yang haq sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap sebagai yang haq, kejahatan dianggap kebaikan. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar radhiallohu’anhu :

“Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan terputus satu demi satu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal kejahiliyahan.í

2. Ta’ashub (fanatik) kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya, sekalipun hal itu bathil. Sebagaimana difirmankan Allah Subhanahuwata’ala :

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang Telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (Al – Baqarah : 170)

3. Taqlid buta, dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya. Sebagaimana yang terjadi pada golongan – golongan seperti Mu’tazilah, Jahmiyah dan lainnya. Mereka bertaqlid kepada orang – orang sebelum mereka dari para imam sesat, sehingga mereka juga sesat, jauh dari aqidah shohihah.

4. Ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali dan orang – orang sholih, serta mengangkat mereka di atas derajat yang tidak semestinya, sehingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang luar biasa atau dapat mendatangkan rezeki, menolak kemudhoratan yang sebenarnya itu semua hanya kuasa Allah semata. Juga menjadikan para wali itu sebagai perantara antara Allah dan makhluk – Nya, sehingga sampai pada tingkat penyembahan kepada para wali tersebut dan bukan penyembahan kepada Allah. Mereka ber – taqarrub (menyembah) kepada kuburan para wali itu dengan hewan qurban sebagai nadzar, do’a, istighatsah dan meminta pertolongan. Sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh terhadap orang – orang salih ketika mereka berkata :

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. (Nuh : 23)

Dan demikianlah yang terjadi pada pengagung – pengagung kuburan di berbagai negeri ini.

5. Ghaflah (lalai) terhadap perenungan ayat – ayat Allah yang terhampar di jagat raya ini (ayat – ayat kauniyah) dan ayat – ayat Allah yang tertuang pada kitab – Nya (ayat – ayat Qur’aniyah). Di samping itu juga terbuai dengan hasil – hasil tekhnologi dan kebudayaan, sampai – sampai mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka mengagung – agungkan manusia serta menisbatkan seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia semata. Sebagaimana kesombongan Qarun yang mengatakan:

Karun berkata: “Sesungguhnya Aku Hanya diberi harta itu, Karena ilmu yang ada padaku”. dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh Telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih Kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Al – Qhashas : 78)

Dan perkataan orang lain yang juga sombong :

Dan jika kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari kami sesudah dia ditimpa kesusahan, Pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan Aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. dan jika Aku dikembalikan kepada Tuhanku Maka Sesungguhnya Aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang Telah mereka kerjakan dan akan kami rasakan kepada mereka azab yang keras.(Fushilat : 50)

Dan dalam ayat yang lain :

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru kami, Kemudian apabila kami berikan kepadanya nikmat dari kami ia berkata: “Sesungguhnya Aku diberi nikmat itu hanyalah Karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak Mengetahui. (Az – Zumar : 49)

Mereka tidak berpikir dan tidak pula melihat keagungan Allah yang telah menciptakan alam ini dan yang telah menciptakan manusia lengkap dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan keistimewaan – keistimewaan alam serta memfungsikannya demi kepentingan manusia.

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (Ash – Shaffat : 96)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan Telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu? (Al – A’raf : 185)

6. Pada umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pengarahan yang benar (menurut Islam). Padahal Rasululohu telah bersabda :

“Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orang tuanya yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Al – Bukhori)

Jadi, orantua mempunyai peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak – anaknya, mendidik dan mengarahkannya ke pendidikan yang benar sesuai dengan syari’at yang diturunkan Allah dan Rasul – Nya.

7. Enggannya media pendidikan dan media informasi melaksanakan tugasnya. Kurikulum pendidikan kebanyakan tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama Islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Sedangkan media informasi baik media cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal – hal yang bersifat materi dan hiburan semata. Tidak memperhatikan hal – hal yang dapat meluruskan moral dan menanamkan aqidah serta menangkis aliran – aliran sesat. Dari sini, muncullah generasi yang tanpa senjata (ilmu Islam yang benar) sehingga tidak berdaya di hadapan pasukan kekufuran yang lengkap persenjataannya.

CARA – CARA MENANGGULANGI PENYIMPANGAN AQIDAH

Cara menanggulangi penyimpangan di atas teringkas dalam poin – poin berikut ini :

a) Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullohu untuk mengambil aqidah shohihah. Sebagaimana para Salafus Sholeh mengambil aqidah mereka dari keduanya. Tidak akan dapat memperbaiki akhir umat ini kecuali apa yang telah memperbaiki umat pendahulunya. Juga dengan mengkaji aqidah golongan sesat dan mengenal syubhat – syubhat mereka untuk kita bantah dan kita waspadai, karena siapa yang tidak mengenal keburukan, ia dikhawatirkan terperosok ke dalamnya.

b) Memberi perhatian pada pengajaran aqidah shohihah, aqidah salaf, di berbagai jenjang pendidikan. Memberi jam pelajaran yang cukup serta mengadakan evaluasi yang ketat dalam menyajikan materi ini.

c) Harus ditetapkan kitab – kitab salaf yang bersih sebagai materi pelajaran. Sedangkan kitab – kitab kelompok penyeleweng harus dijauhkan.

d) Menyebarkan para da’i yang meluruskan aqidah umat Islam dengan mengajarkan aqidah salaf serta menjawab dan menolak seluruh aqidah bathil.

Sumber : Buletin Ar – Rasyaad Edisi : 101

Posted in: Aqidah