Keterangan Indah Tentang Syafa’at

Posted on 13 Februari 2013 oleh


قَالَ أَبُو الْعَبَّاسِ : نَفَى اللهُ عَمَّا سِوَاهُ كُلَّ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْمُشْرِكُونَ، فَنَفَى أَنْ يَكُونَ لغَيْرِهِ مُلْكٌ أَوْ قِسْطٌ مِنْهُ، أَوْ يَكُونَ عَوْنًا للهِ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا الشَّفَاعَةُ، فَبَيَّنَ أَنَّهَا لَا تَنْفَعُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّبُّ، كَمَا قَالَ: وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى.
فَهَذِهِ الشَّفَاعَةُ الَّتِي يَظُنُّهَا الْمُشْرِكُونَ هِيَ مُنْتَفِيَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا نَفَاهَا الْقُرْآنُ، وَأَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَأْتِي فَيَسْجُدُ لِرَبِّهِ وَيَحْمَدُهُ لَا يَبْدَأُ بِالشَّفَاعَةِ أَوَّلًا – ثُمَّ يُقَالَ لَهُ: ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَقُلْ يُسْمَعْ، وَسَلْ تُعْطَ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ.
وقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: (مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ).
فَتِلْكَ الشَّفَاعَةُ لِأَهْلِ الْإِخْلَاصِ بِإِذْنِ اللهِ، وَلَا تَكُونُ لِمَنْ أَشْرَكَ بِاللهِ وَحَقِيقَتُهُ: أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ هُوَ الَّذِي يَتَفَضَّلُ عَلَى أَهْلِ الْإِخْلَاصِ فَيَغْفِرُ لَهُمْ بِوَاسِطَةِ دُعَاءِ مَنْ أُذِنَ لَهُ أَنْ يَشْفَعَ، لِيُكْرِمَهُ وَيَنَالَ الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ.
فَالشَّفَاعَةُ الَّتِي نَفَاهَا الْقُرْآنُ مَا كَانَ فِيهَا شِرْكٌ، وَلِهَذَا أَثْبَتَ الشَّفَاعَةَ بِإِذْنِهِ فِي مَوَاضِعَ. وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا لَا تَكُونُ إِلَّا لِأَهْلِ التَّوْحِيدِ والْإِخْلَاصِ. انْتَهى كَلَامُهُ
Abul ‘Abbâs berkata,
“Dari selain diri-Nya, Allah menafikan segala hal yang menjadi tumpuan kaum musyrikin. Dia menafikan adanya kekuasaan, atau sebagian (kekuasaan) tersebut pada selain diri-Nya, atau adanya pembantu bagi Allah sehingga tiada lagi yang tersisa, kecuali syafa’at.

Oleh karena itu, Dia menjelaskan bahwa syafa’at itu tidaklah bermanfaat, kecuali kepada orang yang Ar-Rabb izinkan, sebagaimana firman (Allah) Ta’âlâ,
‘Dan mereka tidaklah dapat memberi syafa’at, kecuali bagi orang yang telah Allah ridhai.’ [Al-Anbiyâ`: 28]

Syafa’at yang disangka oleh kaum musyrikin inilah yang tidak akan ada pada hari kiamat sebagaimana dinafikan oleh Al-Qur`an. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa, (pada hari kiamat), beliau datang bersujud kepada Rabb-nya dan menghaturkan segala pujian kepada-Nya, tanpa memulai dengan memberi syafa’at.

Maka dikatakanlah kepada beliau,
‘Angkatlah kepalamu. Katakanlah, niscaya engkau akan didengar. Mintalah, niscaya engkau akan diberi. Berilah syafa’at, niscaya syafa’atmu akan diterima.’

Abu Hurairah bertanya, ‘Siapakah manusia yang akan berbahagia dengan syafa’atmu?’

Beliau menjawab, ‘Orang yang mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh” secara ikhlas dari dalam hatinya.’
Syafa’at tersebut diperuntukkan kepada orang-orang yang ikhlas dengan seizin Allah, dan tidak diperuntukkan kepada orang yang mempersekutukan Allah.

Hakikatnya adalah bahwa Allah Subhânahu jualah yang melimpahkan karunia-Nya kepada para pemilik keikhlasan (orang-orang yang menauhidkan Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya) dalam bentuk memberikan ampunan kepada mereka melalui doa orang yang Allah izinkan untuk memberikan syafa’at, dalam rangka memuliakan orang tersebut serta agar dia meraih Al-Maqâm Al-Mahmûd ‘kedudukan terpuji’.

Jadi, syafa’at yang Al-Qur`an nafikan adalah yang mengandung kesyirikan. Oleh karena itulah, (Al-Qur`an) menetapkan adanya (pembolehan) syafa’at sesuai dengan izin-Nya pada beberapa tempat (beberapa ayat).

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga sudah menjelaskan bahwa syafa’at itu tidaklah diperuntukkan, kecuali hanya kepada ahlut tauhîd wal ikhlâsh ‘orang-orang yang menauhidkan Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya’.”

Dari keterangan beliau di atas, terdapat penjelasan dan tafsir terhadap ayat-ayat yang terkandung dalam bab syafa’at, di antaranya:

1.Tentang sifat-sifat syafa’at yang ditolak dan sifat-sifat syafa’at yang ditetapkan (dalam Al-Qur`an).

2.Menyebutkan tentang syafa’at kubra, dan itu adalah Al-Maqâm Al-Mahmûd ‘kedudukan yang terpuji’, dan apa yang dilakukan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau diizinkan untuk memberi syafa’at.

3.Bahwa orang yang paling berbahagia dengan mendapatkan syafa’at adalah orang-orang yang beriman.

Faedah
Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memiliki enam jenis syafa’at, yaitu:

1.Syafa’at kubra, yang khusus dimiliki oleh Nabi kita, Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, yaitu syafa’at untuk manusia ketika di Mahsyar agar Allah segera memutuskan perkara seluruh manusia dan mengistirahatkan mereka dari tempat penantian mereka di Mahsyar.

2.Syafa’at untuk penghuni surga agar mereka segera masuk ke surga.

3.Syafa’at untuk pelaku maksiat yang seharusnya mereka masuk ke dalam neraka agar tidak dimasukkan ke neraka.

4.Syafa’at bagi pelaku maksiat yang sudah dimasukkan ke dalam neraka agar mereka bisa dikeluarkan dari neraka.

5.Syafa’at bagi penghuni surga untuk diberi tambahan pahala dan ketinggian derajat di surga.

6.Syafa’at beliau untuk pamannya, yaitu Abu Thalib untuk diringankan adzabnya di neraka.

Sumber; Dzulqarnain M. Sunusi – dzulqarnain.net
Twitter: @DzulqarnainMS

Posted in: Artikel, Hadits