Faktor yang Mengakibatkan Anak Adam Menjadi Kafir dan Meninggalkan Agama Mereka, yaitu Sikap Melampaui Batas kepada Orang-Orang Shalih

Posted on 17 Februari 2013 oleh


وَقَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ
Firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas (yang telah ditentukan Allah) dalam agama kalian.” [An-Nisâ`: 171]

Setelah Penulis rahimahullah menjelaskan sebagian perbuatan para penyembah kubur terhadap orang yang sudah meninggal dunia, berupa berbagai kesyirikan yang bertentangan dengan tauhid, dalam bab ini, beliau ingin menjelaskan sebab-sebab terjadinya hal tersebut agar seseorang berhati-hati dan menjauhkan diri darinya, yaitu sikap berlebihan kepada orang-orang shalih.

Allah melarang orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara untuk melampaui batas terhadap (ketentuan) yang telah Allah tetapkan untuk mereka. Yaitu, agar mereka tidak mengangkat makhluk pada kedudukan yang melebihi kedudukan (makhluk) yang telah Allah tetapkan, dan (agar mereka tidak) mendudukkan (makhluk) pada kedudukan yang tidak pantas ditempati oleh siapapun, kecuali Allah.

Bahwa, pada ayat ini, terdapat larangan terhadap sikap ghulûw ‘berlebih-lebihan’ secara mutlak, sehingga mencakup sikap ghulûw terhadap orang-orang shalih. Meskipun ditujukan kepada ahlul kitab, Ucapan dalam ayat tersebut sesungguhnya berlaku secara umum, yang menjangkau seluruh umat manusia, sebagai peringatan bagi mereka supaya mereka tidak memperlakukan Nabi mereka dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagaimana perlakuan orang-orang Nashara kepada Isa dan orang-orang Yahudi kepada ‘Uzair.

Faedah Ayat

1. Diharamkannya sikap ghulûw ‘berlebih-lebihan’ terhadap individu-individu pada amalan-amalan dan pada yang selainnya.

2. Bantahan terhadap orang-orang Yahudi, orang-orang Nashara, dan yang menyerupai mereka dalam sikap ghulûw mereka terhadap seseorang pada amalan-amalan dan yang selainnya.

3. Anjuran untuk senantiasa bersikap pertengahan dalam beragama dan dalam segala urusan, yaitu antara dua sikap: sikap berlebih-lebihan dan sikap menyepelekan.

4. Peringatan terhadap perbuatan syirik, sebab-sebab (kesyirikan), dan perkara-perkara yang mengantar kepada (kesyirikan).

Oleh: Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi

Posted in: Aqidah