Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Tidak Mampu Memberi Hidayah Kepada Orang yang Sangat Beliau Cintai

Posted on 18 Februari 2013 oleh


فِي الصَّحِيحِ عَنِ ابْنِ الْمُسَيِّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: (لمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ وَأَبُو جَهْلٍ. فقَالَ لَهُ: (يَا عَمِّ، قُلْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ)، فَقَالَا لَهُ: أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟ فَأَعَادَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَعَادَا ، فَكَانَ آخِرُ مَا قَالَ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. فقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ). فأنَزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى.
وأنَزَلَ اللهُ فِي أَبِي طَالِبٍ: إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ.
Dalam Ash-Shahîh dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, (ayahnya) berkata,
“Tatkala Abu Thalib akan meninggal dunia, datanglah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepadanya, dan saat itu Abdullah bin Abi Umayyah serta Abu Jahl berada di sisinya, maka (Rasulullah) berkata kepadanya,
‘Wahai pamanku, ucapkanlah Lâ Ilâha Illallâh, suatu kalimat yang dapat kujadikan sebagai hujjah untukmu di sisi Allah.’
Namun, kedua orang itu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau membenci agama Abdul Muththalib?’
Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun mengulangi ucapan (beliau) kepada paman (beliau), tetapi kedua orang itu juga mengulang-ulangi perkataan mereka kepadanya. Maka, akhir perkataannya adalah bahwa ia masih tetap berada pada agama Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan Lâ Ilâha Illallâh.

Oleh karena itu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu sepanjang aku tidak dilarang.’
Maka, Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan (firman-Nya), ‘Nabi dan orang-orang yang beriman tidaklah patut memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun (orang-orang musyrik) itu adalah kaum kerabat-(nya).’ [At-Taubah: 113]

Mengenai Abu Thalib, Allah menurunkan (firman-Nya), ‘Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima hidayah.’ [Al-Qashash: 56].”

Adalah Abu Thalib seorang yang senantiasa melindungi Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dari gangguan kaumnya. Dia melakukan perlindungannya yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain, sehingga Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat terhadap hidayah pamannya tersebut.

Di antara upaya beliau dalam rangka semangatnya tersebut adalah bahwa beliau menjenguknya ketika sakit. Maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendatanginya ketika dia sedang dalam sakaratul maut dan menawarkan (untuk masuk) Islam, agar Islam menjadi penutup bagi kehidupannya, sehingga dia mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan.

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam meminta agar Abu Thalib mengucapkan kalimat tauhid Lâ Ilâha Illallâh. Sedangkan kaum musyrikin menawarkan agar Abu Thalib tetap dalam agama nenek moyangnya yaitu agama kesyirikan, karena mereka mengetahui hal yang kalimat ini tunjukkan berupa penolakan terhadap kesyirikan serta pengikhlasan ibadah hanya kepada Allah semata.
Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengulangi permintaannya kepada Abu Thalib agar melafazhkan syahadat (Lâ Ilâha Illallâh) itu, tetapi kaum musyrikin juga mengulangi bantahannya sehingga mereka telah menjadi sebab perpalingannya dari kebenaran dan kematiannya di atas kesyirikan.

Kemudian ketika itu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersumpah untuk memintakan ampun baginya kepada Allah selama hal itu tidak dilarang (oleh Allah). Maka Allah menurunkan larangan tentang hal tersebut dan menjelaskan bahwa hidayah itu di tangan Allah, dan Allahlah yang memberikan keutamaan dengan hidayah itu kepada siapa yang Dia kehendaki. Hal ini karena Allah yang lebih mengetahui orang-orang yang pantas mendapat hidayah dan orang-orang yang tidak pantas mendapat (hidayah) tersebut.

Kesimpulan dari hadits di atas bahwasanya Ar-Rasûl shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak berkuasa untuk memberi manfaat kepada orang yang paling dekat dengan dirinya, yang menunjukkan akan batilnya bergantung kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya, apalagi kepada selainnya.

Faedah Hadits

1. Bolehnya menjenguk orang musyrik yang sakit apabila diharapkan dapat masuk Islam.

2. Bahayanya sahabat yang jelek dan teman yang jahat bagi seseorang.

3. Bahwa makna kalimat Lâ Ilâha Illallâh adalah meninggalkan peribadahan kepada patung, para wali dan orang shalih dan mengesakan peribadahan hanya untuk Allah, dan bahwasanya orang-orang musyrikin mengetahui maknanya.

4. Bahwasanya barangsiapa yang mengucapkan Lâ Ilâha Illallâh dengan mengetahui (maknanya) dan penuh keyakinan (tidak ragu) serta mengimaninya maka dia telah masuk Islam.

5. Bahwa semua amalan itu bergantung pada (amalan) yang terakhir.

6. Diharamkan memintakan ampun untuk orang-orang musyrikin, juga diharamkan untuk loyal dan mencintai mereka.

7. Batilnya bergantung kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan selainnya dalam usaha mencari manfaat dan menolak bahaya.

8. Bantahan terhadap orang yang meyakini akan keislaman Abu Thalib.

9. Bahayanya taqlid kepada nenek moyang dan para pembesar dengan menjadikan ucapan-ucapan mereka sebagai hujjah untuk rujukan ketika terjadi perselisihan.

Dzulqarnain M. Sunusi – dzulqarnain.net