Sejarah Kesyirikan di Tengah Kaum Nabi Nuh

Posted on 18 Februari 2013 oleh


وَفِي الصَّحِيحِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِ اللهِ تَعَالَى: وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا.
قَالَ: (هَذِهِ أسَمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ: أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ فِيهَا أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ، فَفَعَلُوا، وَلَمْ تُعْبَدْ، حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَنُسِيَ الْعِلْمُ، عُبِدَتْ).

Dalam Ash-Shahîh, dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ, bahwa mengenai firman Allah Ta’âlâ,

“Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata, ‘Janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan kepada) sembahan-sembahan kalian, (terutama) janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan kepada) Wadd, Suwâ’, Yaghûts, Ya’ûq, dan Nasr.’.” [Nûh: 23]

Beliau menafsirkan,
“Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Tatkala mereka meninggal, syaithan membisikkan kepada kaum mereka, ‘Dirikanlah gambar-gambar pada majelis-majelis mereka, tempat mereka pernah mengadakan pertemuan, dan namailah (gambar-gambar) itu dengan nama-nama mereka.’ Orang-orang itu pun melaksanakan (bisikan syaithan) tersebut, tetapi (patung-patung mereka) belum disembah (ketika itu). Hingga, setelah orang-orang (yang mendirikan patung itu) meninggal dan manusia melupakan ilmu (agama), barulah (patung-patung) tadi disembah.”

وَقَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ: قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ: لَـمَّا مَاتُوا عَكَفُوا عَلَى قُبُورِهِم ثُمَّ صَوَّرُوا تَمَاثِيلَهُم، ثُمَّ طَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَعَبَدُوهُمْ
.
Ibnul-Qayyim رحمه الله berkata,
“Banyak kalangan Salaf yang berkata, ‘Setelah mereka meninggal, orang-orang pun sering mendatangi kuburan mereka (untuk beri’tikaf), lalu mendirikan gambar-gambar mereka. Kemudian, setelah masa demi masa berlalu, akhirnya mereka pun disembah.’.”

Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ menafsirkan ayat yang mulia ini dengan (tafsiran) bahwasanya sembahan-sembahan yang disebutkan oleh Allah bahwa kaum Nabi Nuh saling berwasiat untuk terus menyembahnya setelah Nabi Nuh ‘alaihis salam telah melarang mereka dari berbuat kesyirikan kepada Allah, bahwa pada asalnya sembahan-sembahan tersebut adalah nama-nama orang shalih dari kalangan mereka, yang mereka bersikap berlebih-lebihan kepada orang-orang shalih tersebut disebabkan oleh tipu daya syaithan terhadap mereka sehingga mereka membuat gambar-gambar orang-orang shalih tersebut.

Kemudian berubahlah perkara dengan gambar-gambar ini hingga menjadi patung-patung yang disembah dari selain Allah.

Adapun apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim, semakna dengan apa yang disebutkan oleh Imam Al-Bukhâry, kecuali bahwa beliau (Ibnul Qayyim) menyebutkan perkara i’tikaf di atas kuburan orang-orang shalih itu dilakukan sebelum mereka membuat gambar-gambarnya. Maka hal ini dapat menambahkan (menguatkan) keterangan yang telah lalu bahwa i’tikaf di atas kubur juga merupakan sebab terjadinya peribadahan terhadap kubur tersebut.

Atsar di atas menunjukkan bahwa sikap berlebih-lebihan kepada orang-orang shalih merupakan sebab penyembahan terhadap mereka dari selain Allah.

Faedah Atsar

1. Bahwa sikap ghulûw ‘berlebihan’ terhadap orang-orang shalih merupakan sebab peribadahan kepada mereka dari selain Allah dan peninggalan agama secara keseluruhan.

2. Peringatan dari membuat gambar dan menggantungkan gambar, lebih-lebih gambar orang-orang yang diagungkan.

3. Peringatan dari tipu daya syaithan dan penawarannya yang batil dalam bentuk kebenaran.

4. Peringatan dari berbagai macam bid’ah meskipun pelakunya bermaksud baik.

5. Bahwa perkara ini merupakan perantara kepada kesyirikan maka wajib dihindari.

6. Mengetahui nilai keberadaan ilmu dan bahaya hilangnya ilmu.

7. Bahwa sebab hilangnya ilmu adalah dengan meninggalnya para ulama.

8. Peringatan terhadap sikap taqlid karena (sikap) tersebut dapat mengakibatkan pelakunya keluar dari Islam.

BBM Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi

Posted in: Aqidah