Hukum Wanita Haidh/Nifas Membaca Al-Qur’an.

Posted on 2 April 2013 oleh


Haidh dan nifas adalah darah yg keluar dari kemaluan wanita yg merupakan kejadian alami yg terkadang akan dialaminya atau karena sebab2 tertentu. Dan pada saat itu seorang wanita dianggap berhadats besar.

Maka kondisi yg demikian, akankah bermplikasi terhadap boleh atau tidaknya ia membaca & memegang al-Qur’an?

Dalam masalah para Ulama berbeda pendapat. Perbedaan ini disebabkan karena perbedaan dalam memahami/menafsirkan isi kandungan firman Allah Ta’ala yg termaktub di dlm al-Qur’an, surat al-Waqi’ah: 79.

Allah Ta’ala berfirman, “Tidak menyentuhnya (al-Qur’an) kecuali al-Muthahharuun.” (QS. Al-Waqi’ah: 79)

Sebagian Ulama memahami, bahwa maksud kata “al-Muthahharuun” dalam ayat tersebut adalah hamba2 Allah yg disucikan dari kalangan manusia. Dengan demikian manakala mereka berhadast, lebih khusus hadats besar tidak boleh membaca al-Qur’an atau menyentuhnya.

Ulama’ yg lain memahami dan menafsirkan, bahwa yg dimaksud dalam ayat tersebut adalah hamba Allah dari kalangan Malaikat.Sehingga yg dimaksud al-Qur’an di ayat tersebut adalah al-Qur’an yg ada di Lauh al-Mahfudz & bukan al-Qur’an yg di dunia. Dan inilah penafsiran yg lebih kuat & tepat.

Alasan lain yg menguatkan:

1. Bagi yg mengatakan tidak boleh membaca & menyentuhnya beralasan juga dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Tidaklah menyentuh al-Qur’an melainkan ath-Thahir.” (Al-Hadits)

Alasan dengan hadits ini kurang tepat, karena yg dimaksud kata “ath-Thahir” dlm hadits tersebut adalah “org mukmin”, & bukan “org yg bersuci”. Maka dg makna itu org kafir tdk boleh menyentuhnya, kecuali ada kepentingannya.

2. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kpd istri beliau ‘Aisyah ketika beliau haji, “Lakukanlah sgl sesuatu yg dilakukan org (yg sdg) haji selain engkau sdg melakukan thawaf&shalat.” (Al-Hadits)

Berdasarkan hadits tsbt, berarti selain thawaf&shalat,seorg wanita haidh/nifas yg sdg haji boleh melakukan ibadah yg lain, termasuk membaca al-Qur’an.

Smg bermanfaat. Wallahu a’lam.

[Redaksi BB Dakwah Al-Sofwa]

Posted in: Fikih