APAKAH JANIN YANG MATI KEGUGURAN PERLU DIKAFANI DAN DISHALATKAN

Posted on 29 Agustus 2014 oleh


» Pertanyaan:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya :

Ada seorang perempuan yang keguguran saat janin berumur 6 bulan. Dan janin itu dikuburkan tanpa dishalati, bagaimana hukum tidak menshalatinya ?

» Jawaban:

Apabila keguguran telah mencapai usia 4 bulan (atau lebih) maka ia harus dimandikan, dikafani dan dishalati, karena jika telah mencapai 4 bulan berarti ruhnya telah ditiupkan ke janin, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘orang yang benar dan dibenarkan’ telah bersabda kepada kami.

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan ciptaannya di perut ibunya empat puluh hari dalam bentuk air mani, kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu yang sama. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama. Kemudian diutuslah malaikat kepadanya untuk meniupkan nyawa kepadanya”..sampai akhir hadits.

[Hadits Riwayat Bukhari (3208) dalam Al-Bad’u, Muslim (2643) Kitaab Al-Qadru]

Maka waktu 120 hari atau 4 bulan bila keguguran harus dimandikan, dikafani, dishalati, dan akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama manusia.

Adapun jika belum berumur 4 bulan maka ia tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tidak dishalati, ia dikuburkan dimana saja, karena ia sekedar seonggok daging bukan manusia.

Janin yang ditanyakan tadi usianya telah mencapai enam bulan maka ia wajib dimandikan, dikafani, dan dishalati. Terhadap pertanyaan tadi, karena ia belum dishalati hendaknya mereka menshalati sekarang di atas kuburannya jika memang diketahui tempatnya, jika tidak ketahuan maka dishalatkan secara ghaib, dan shalat sekali saja sudah cukup baginya.

Wallahu a’lam.

Demikian, smoga bermanfaat.

[Majmu Fatawa Arkanil Islam, Oleh Syaikh Muhamad bin Shalih Al-Utsaimin]
 

Posted in: Fatwa